Monday, October 04, 2010

Akhir


Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Q.S. Asy Syuura: 20)

Di kehidupan yang fana, ada ujung yang sebetulnya ‘tak berujung’. Saat itu adalah ruang dan waktu transisi. Peralihan dari sebuah momen dramatik, penuh dengan pergulatan warna-warni hidup yang sering absurd. Dramatik karena terdiri atas penggalan babak-babak drama kehidupan yang pasti diwarnai oleh rasa kemanusiaan, sebagaimana mafhumnya manusia. Sedih, senang, susah, gembira, baik, jahat, indah, semrawut, simpatik, empatik, apatis, dan selainnya. Absurd, karena peran yang ada kalanya paradoks. Pengemban sekaligus pelanggar amanah. Pengingat, tapi kerap menyengaja lupa.

Mulai dari jabang bayi yang merah. Yang baru menghirup kenaifan hidup. Sama sekali tak ada beban, lantaran belum termasuk mukallaf. individu yang terkena hukum. Ia masih bebas sebebas-bebasnya. Berperilaku seperti lingkungan mencontohkan. Ketika salah, maka tak pantas ia dipersalahkan.

Di fase inilah dipercaya sebagai masa keemasan anak manusia. Kedua orang tua yang menjadi sosok-sosok terdekat, yang dominan menjadi proyek percontohan proses belajar anaknya, berperan besar ‘menentukan’ masa depan buah hati mereka. Masa-masa ini, sebagaimana sabda Rasulullah Saw; "Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya." (Muttafaq 'alaih)

Beranjak remaja, dan fase-fase berikutnya proses terus berlanjut. Makhluk manusia sudah terkena hukum. Apa-apa yang dilakukan jika tak berkesuaian dengan aturan, maka harus dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, pun demikian. Di sinilah pertarungan menghapus yang absurd itu terjadi. Tak akan ada lagi paradoks, jika ragu sudah berhasil ditaklukkan.

Untuk sampai di ujung kefanaan, tak semua individu mengalami fase tadi. Bisa saja, tak lama setelah terlahir ke dunia, Allah Swt sudah memanggilnya. Bagi yang diberi kesempatan lebih panjang, maknai itu sebagai bentuk kasih sayang Allah, agar bisa mengoptimalkan persiapan. Persiapan berupa bekal hakiki yang akan menjadi penolong di hari kemudian. Akhir yang indah. Insya Allah.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Q.S. Al-Isra: 21)

(Editorial tabloid Alhikmah edisi 51, Oktober 2010)

0 comments: