
Allah menganugerahkan alhikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S. Albaqarah: 269)
Perubahan, harmoni nafas zaman. Sekarang atau kesempatan itu tak lagi akan datang. Idealisme tak harus tanggal, hanya butuh penyesuaian. Itu pun tentu dalam batas kebenaran. kebenaran Islam yang telah diwahyukan beribu tahun silam.
Adakah yang tak sepakat, jika perubahan itu tak mungkin terelak? Sadar atau tidak, sepanjang hela nafas kehidupan, perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Maka, ada pilihan bagi kita untuk bersikap. Mengalir begitu saja, semisal air, tanpa ada persiapan khusus untuk menghadapinya. Tak perlu merancang peta jalan, agar tahu arah dan tujuan. Toh, dalam keyakinan mazhab ini, ujung- ujungnya ke laut juga. Tak pernah terlintas dalam benak, aliran air itu bisa saja terhambat pada perjalanannya.
Di belakang hari, menguntit konsekuensi. Pertanggungjawaban atas apa-apa yang semestinya dipertanggungjawabkan. Segala ucap, laku, dan kesesuaiannya dengan misi kehidupan.
Bagi yang selanjutnya, jalan kehidupan tak lantas muncul begitu saja. Memuluskan langkah, tanpa ada duri kecil yang membuat badan menggigil, atau bahkan gelombang dahsyat yang kerap didramatisir sebagai tsunami kehidupan.
Bukankah FirmanNya begitu terang benderang, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Albaqarah: 155)
Hidup bagi yang demikian adalah bagaimana perencanaan maksimal sekaligus aksi, mengoptimalkan setiap detik yang dianugerahkan. Membangun jalan-jalan, yang boleh jadi sekali dua menemui kebuntuan, tapi tak lama. Lalu segera tersadar, setelah melakukan evaluasi sekaligus kontemplasi. Dan kemudian berlanjut, menghindari jebakan lubang serupa, bahkan sama, sembari pasrah berserah, memercayakan segalanya kepada sang Pemilik kehidupan.
Mereka yakin bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Mereka selalu berusaha menangkap makna di balik beragam peristiwa yang silih berganti terjadi, kental mewarnai kehidupannya. Mereka yakin, selalu ada (al)hikmah di setiap langkah orang-orang yang berserah.
“Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Nahl: 89)
(Editorial tabloid Alhikmah edisi 50, September 2010)

0 comments:
Post a Comment