
Sosok bercahaya. Telah ada pada dirinya jaminan surga. Tapi tetap, beliau (Saw) tak berhenti menyeru umat, untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi apa-apa yang dilarang. Pun khutbahnya yang selalu dikenang, di saat Ramadhan menjelang, meski itu telah berlangsung berabad-abad silam.
Sepotong kutipan khutbahnya, mengingatkan kita akan kasih sayang sang Pemberi Kehidupan.
“Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.”
Sungguh, momentum yang teramat berharga untuk dilewatkan. Terlebih, belum tentu berulang di tahun yang akan datang. Bukan berharap, tapi seperti itulah masa depan. Misterius. Hanya Allah yang tahu.
Maka, tak ada ruginya jika kita sudah bersiaga, mengisi bulan mulia ini dengan beragam aktivitas yang menunjang. Kesempatan, Insya Allah, selalu ada, manakala kita niatkan kuat untuk memaksimalkan waktu yang tersisa.
Ramadhan, bisa menjadi momentum revolusi diri, menjadi pribadi yang lebih unggul dibandingkan bulan-bulan yang sudah terlewati. Bukan berarti harus seketika, walaupun tak tertutup kemungkinan saat itu juga. Apalagi berubah setelah Ramadhan berlalu.
Jika Rasul saja masih berlaku sedemikian, apalagi kita, manusia biasa. Ibadah tak kenal henti, doa tak bosan dipanjatkan, amal sosial terus dilakukan, dan berderet amal shaleh lainnya. Rasul sadar betul, tugas manusia sebagai hamba, adalah semata pengabdian pada Khaliknya. Terlebih beliau (Saw) adalah Qudwah sekaligus Uswah bagi umatnya, sampai akhir zaman, kelak.
Tak pantas rasanya jika kita masih saja bersedih memikirkan absurditas euforia Ramadhan, yang berujung pameran harta, sekaligus kebajikan. Jika kita masih bingung memikirkan apa yang akan dikenakan saat hari raya di penghujung Ramadhan nanti, untuk memperlihatkan bahwa diri ini masih mampu membeli.
Dan kemudian, berkah 1000 bulan, Ramadhan nan mulia ini terlewati begitu saja, tanpa makna. Saat terlupa bahwa kita adalah hamba. Bukan pemegang tampuk kuasa.
“Sempat berujar tentang kosong di suatu siang. Berikutnya sedikit terisi sepersekian
Sayang, lalu hilang senafas kemudian. Berlalu, menyisa senyum kegetiran
Senyap sore menanti jingga mentari. Mengiring hampa di ruang penuh udara
Sampai di sela awan antara semesta. Tetap turun menukik, tanpa bisa melesak kembali
Allah, kumohon... Jangan aku disia-siakan oleh kebodohanku
Dusta mengebiri Ramadhan kami. Ramadhan yang mungkin tak akan lagi kujumpai. “
(Tentang Kosong; rehranumurti, 2007)
(Editorial tabloid Alhikmah edisi 49, Agustus 2010)

0 comments:
Post a Comment