
Malam yang dingin. Di luar, rintik hujan jatuh pelan, namun kerap. Cacing dalam perut menyapa. Tik tok ... tik tok ... suara wajan beradu sendok. Hampir pasti itu adalah suara khas penjaja mi tek-tek, yang sering terdengar sejak senja berganti gulita.
Kian lama terdengar jelas, semakin mendekat. Terbayang dalam benak, mi tek-tek setengah pedas, sepertinya mampu meredam protes cacing perut malam itu. Air liur menggenang. Saya bergegas keluar, “mi tek-tek .... mi tek tek”
Pintu pagar dibuka. Setengah kaget, sosok yang masih tampak belia datang dengan senyuman, sembari melepas tanggungan.
“Mi tek tek atau nasi goreng, pak?” Tanya dia, sopan. “Oooh, rupanya ada nasi goreng juga, ya. Saya pikir cuma mi. Tapi pagi tadi saya sudah sarapan nasi goreng. Saya penasaran, ingin mencicipi mi tek-tek,” saya menjawab.
Mulailah tangan-tangan cekatan bocah itu meramu sajian. Rupanya bahan bakar yang digunakan bukan gas atau minyak tanah, melainkan arang. Sepertinya itulah nilai jual jajanan ini.
Sembari menunggu prosesi, kami pun terlibat percakapan ringan.
“Namanya siapa, mas?” Saya mengawali. “Ulin, pak. Muhammad Ulinnuha,” jawabnya, ringkas. Penasaran dengan perawakannya yang masih tampak belia, iseng saya kembali bertanya,“Umurnya berapa, mas? Sudah lama jualan mi?”
“Tujuh Belas tahun, pak. Sudah dua tahun ini saya jualan! Sejak 2008,” Ulin menjawab, dengan logat jawa medok.
Alasannya klasik, ekonomi keluarga yang morat-marit. Selebihnya Ulin mengaku ingin mandiri, dan lepas dari jerat kemiskinan. Maka, Ulin si bocah ingusan 15 tahun, memberanikan diri untuk hijrah dari tanah lahirnya di Tegal, mengadu nasib ke kota kembang. Seorang teman menawari Ulin untuk berjualan mi (goreng) tek tek yang khas Tegal itu.
Tak nampak segorespun raut sedih, bahkan penyesalan di mukanya. Yang ada, malah sebaliknya. Senyum seperti tak pernah absen tersungging dari kedua bibir dia. Bola matanya bersinar cerah. Saban malam, selepas Isya, ia mulai keluar sarang sembari mengetuk-ketukkan sendok ke punggung wajan, panggilan khas Ulin kepada para pelanggan setianya. Paling cepat tengah malam, ia baru bisa pulang. Itu pun jika dagangannya sudah habis terjual.
Subhanallah, malam itu Allah menganugerahi pelajaran luar biasa berharga. Melalui seorang Ulin, saya pribadi diingatkan kembali bahwa hidup adalah perjuangan. Tak boleh berhenti sampai titik penghabisan. Terlebih sebagai seorang Muslim, makna perjuangan di dunia yang semu ini, tentu semata sebagai bekal meraih ridha-Nya. Wallahua’lam
(Editorial Tabloid Alhikmah edisi 48, Juli 2010)

0 comments:
Post a Comment