Friday, May 21, 2010

Jalan Indah nan Berliku sang Penyair

Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Jabang Bayi itu lahir dari rahim Tinur Muhamad Nur. Bersegera, pesan via telegram dikirimkan kepada suami tercinta, A. Gaffar Ismail, yang saat itu tengah berada di Pekalongan, Jawa Tengah.

“Alhamdulillah, anak telah lahir. Laki-laki. Siapa namanya?”

Gaffar Ismail membalas, “Beri nama Taufiq!”

Sontak, keluarga Tinur dan Gaffar menolak... “Jangan dikasih nama abangnya yang baru mati... nanti umurnya nggak panjang...” (beberapa waktu sebelumnya, saat masih di Pekalongan, Tinur memang sempat melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Taufiq Ismail. Namun, bayi mungil itu hanya bertahan hidup 3 bulan).

Tinur kembali mengirimkan telegram. “Reaksi besar dari keluarga.... Mereka menolak nama Taufiq Ismail ...”

“Tetap diberi nama Taufiq. Yang menentukan panjang pendek umur bukan nama, tapi Allah,” pesan balasan Gaffar Ismail, tegas.

Subhanallah, sejak dini, saat baru keluar dari rahim ibunya, Taufiq Ismail sudah dikenalkan pada sebuah prinsip tauhid, yang sangat mendasar dalam Islam. Dari situlah, pondasi ditanamkan oleh ayahandanya yang seorang guru tafsir Alquran, dan di kemudian hari menjadi wartawan.

Benih-benih Cinta Membaca

Usia sekolah dasar, saat tinggal di Semarang, sebulan sekali Taufiq mendapat jatah dua buku dari ayahnya. Ketika itu, sang ayah dipercaya menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Baroe, sebuah harian lokal di sana.

“Sekali sebulan saya dibawa ke toko buku naik sepeda. Begitu masuk toko, saya pilih jatah saya lalu disimpan di tempat tersembunyi. Kemudian saya lihat lagi buku yang diinginkan, tapi tak bisa dibeli. Dan saya baca habis di tempat,” kata Taufiq, mengenang.

Sebagai Wapemred, ayahnya kerap menggantikan tugas Pemimpin Redaksi ketika itu, Parada Harahap,jika berhalangan menulis Tajuk Rencana.

Tanpa sengaja, suatu hari, ia melihat nama A. Gaffar Ismail tertera sebagai penulis Tajuk Rencana. Ia pun bertanya, “ayah yang nulis ini?”

Gaffar pun hanya menjawab dengan senyuman. Dan itu cukup untuk membuat Taufiq kecil terkagum-kagum. Karena kagum, mulailah ia meniru.

“Tulisan pertama saya berupa pantun. Biarpun hurufnya bengkok-bengkok, tetap dimuat di rubrik ’Taman Kanak-kanak’ harian Sinar Baroe, tempat ayah bekerja. Dimuat karena pengasuh rubriknya anak buah ayah saya,” kata Taufiq, sembari tertawa ringan.

Dari situ, benih-benih cinta membaca, pun menulis, mulai terpatri dalam diri Taufiq Ismail.

Masuk SMA di Pekalongan, Taufiq mendapat beasiswa AFS (American Field Service) belajar selama satu tahun di SMA Whitefish Bay, Milwaukee, Wisconsin, Amerika.

Di sana, kecintaan Taufiq pada dunia membaca dan menulis kian mendapat tempatnya. Tentang itu, ia pun berbagi cerita. Suatu ketika, Mr. Thompson, guru Sejarah di sana menugaskan semua muridnya untuk membaca buku teks sejarah sebanyak 40 halaman, untuk didiskusikan keesokan harinya.

Taufiq pun mengadu pada Ibu asuhnya di Amerika, Helen Werrbach. “Di SMA Pekalongan saya tak pernah membaca sebanyak itu, dalam sehari. Bahasa Inggris kan bukan bahasa saya,” keluhnya saat itu.

Demi melihat anak asuhnya yang sedih luar biasa, Ibu Helen pun menghadap Mr. Thompson, lalu memohon agar Taufiq mendapatkan dispensasi, agar diringankan janganlah membaca sebanyak itu dalam satu hari.

Alih-alih mendapat keringanan, Thompson malah menjawab,”Yah itu kan di Pekalongan. Di sini, di Milwaukee kau harus bisa membaca banyak. Dan cepat. Tidak ada dispensasi.

Apa boleh buat, Taufiq pun terpaksa harus melakukan tugas membaca banyak, dan berdiskusi di kelas keesokan harinya.

Tentu saja hikmah paksaan itu luar biasa. Ia menjadi terlatih dan terbiasa membaca cepat, terutama di kelas sastra. Steinbeck, Hemingway, Sandburg, Dickinson, beruntun-runtun harus dibaca. Puisi paling favoritnya adalah puisi Robert Frost, “Berjalan di Rimba di Waktu Salju Tiba.” Frost diundang baca puisi waktu pelantikan Presiden. Taufiq sangat berterima kasih pada Miss Clara Czarkowski, guru sastranya yang disebutnya “luar biasa menumbuhkan kecintaan saya pada sastra.”

Gerakan Kontra Budaya

Dua tahun menjelang Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu) 1965, mendung sudah menggelayut di langit Ibu Kota. Orasi aktivis organ Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sarat agitasi dan propaganda itu terus bergulir saban hari, menebar fitnah di sana-sini.

Taufiq Ismail, kala itu masih muda. Baru 28 tahun usianya. Usai lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (UI), ia bekerja sebagai asisten dosen Manajemen Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, sembari terus mengasah cintanya pada dunia sastra.

Agustus 1963, mendung politik merah pekat menggantung di langit Jakarta. Bersama para seniman dan sastrawan anti komunis, yaitu Wiratmo Soekito, HB Jassin, Trisno Soemardjo, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan DS Moeljanto, Taufiq turut serta menandatangani sebuah pernyataan sikap, Manifes Kebudayaan (diejek Lekra dkk dengan singkatan Manikebu, yang diasosiasikan dengan sperma dan kerbau). Berbondong-bondong seniman se-Indonesia, seperti WS Rendra, Bokor Hutasuhut, Sori Siregar, Bur Rasuanto mendukungnya. Manifes ini menentang aksi tujuan menghalalkan segala cara, yang salah satunya menggunakan organ kesenian dan kebudayaan PKI, yaitu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebagai alat agitasi.

Setahun berlalu, Mei 1964, usai penandatanganan Manifes Kebudayaan, rezim Demokrasi Terpimpin, melarang Manifes Kebudayaan, dengan dalih kontra revolusi. Dampaknya, para penandatangan Manifes tersebut yang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus rela kehilangan pekerjaan. Mereka antara lain: HB Jassin, Boen S. Oemarjati, Wiratmo Soekito, termasuk Taufiq Ismail, yang saat itu bekerja sebagai asisten dosen di IPB. Kejadiannya persis tiga hari menjelang keberangkatan Taufiq untuk tugas belajar S2 dan S3 di Universitas Kentucky dan Florida, yang berujung pembatalan.

Istiqamah di Jalur Sastra

Alhamdulillah, Gestapu 1965 gagal total. Tokoh-tokoh wartawan BPS yang anti PKI, sempat dijebloskan ke penjara. Tokoh-tokoh Manifes, antara lain Taufiq yang nyaris dijebloskan ke jeruji besi, terselamatkan. Kecintaannya pada sastra menuai harapan.

Juli, 1966, Bersama Mochtar Lubis (Pemred Harian Indonesia Raya), PK Ojong (Pendiri Kompas), Zaini, dan Arief Budiman, Taufiq mendirikan majalah Sastra, Horison, yang masih eksis terbit hingga kini, 2010.

Tak berhenti di situ, sejak 1996, Taufiq bersama kolega sastrawannya menggagas dan mengorganisir “Sepuluh Gerakan Sastra” ke SMA se-Indonesia. Diantaranya; program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB), Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS), yang menghadirkan 113 Sastrawan dan 11 Aktor/Aktris ke 213 SMA di 164 kota, dan membuat 30 sanggar sastra siswa di seluruh nuantara.

“Intinya adalah ingin memajukan budaya baca buku, dan kemampuan menulis di sekolah,” ungkap Taufiq saat ditemui Alhikmah di kediamannya, Jl Utan Kayu Raya, Jakarta Timur, awal Mei 2010 lalu.

Untuk aktivitasnya itu, ia diganjar gelar Doktor Kehormatan dalam Pendidikan Sastra dari Universitas Yogyakarta (2003), dan Doktor Kehormatan dalam Kebudayaan dari Universitas Indonesia(2009).

Sastra, bagi seorang Taufiq, adalah jalan yang pas bagi siapapun yang ingin mulai menyukai membaca. Karena sastra, seperti makna harfiahnya, indah. Dan itu terwujud dalam karya-karyanya yang fenomenal; 8 Antologi Puisi (diantaranya; Tirani dan Benteng, 1966 dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, 1999), Prahara Budaya, dan Katastrofi Mendunia, bahkan mendapat anugerah sastra dari pemerintah Indonesia, Thailand, Malaysia dan Singapura.

Semua itu, bukan tanpa halangan. Saat letih mendera, sponsor pun tak ada, tiba-tiba ada semacam energi yang begitu menyegarkan. “Ternyata, perintah pertama Allah SWT kepada umat manusia adalah perintah membaca..iqra. Artinya, kalau kita laksanakan, dan kemudian di perjalanan mati ketabrak metro mini, misalnya, Insya Allah, syahid,” katanya, yakin.

Maka, di Rumah Puisi, tempat ia kini menghimpun aktivitas kesusastraannya di Nagari Aie Angek, 6 km dari Padang Panjang ke arah Bukitttinggi, Taufiq menyengaja menggantung sebuah baliho sebesar 3 kali 2 meter bertuliskan “Iqra Bismirabbikalladzi Khalaq ...”. Sebagai pengingat, dan penyemangat diri, rekan dan generasi pelanjut perjuangan.

Lewat Sastra, Taufiq punya mimpi besar, ‘Meraih Ridha Allah’. “Saya ingin hidup saya mendapat ridha Allah. Artinya, saya sudah memilih jalur sastra. Maka, aktivitas kesusastraan saya semoga menjadi jalan keridhaan Allah .” Amiin.

(handono bhakti sungkaryo)

0 comments: