Oleh ANDREAS HARSONO
Jatuh bangun majalah New Yorker.
WAKTU itu Salatiga hangat dengan macam-macam diskusi politik dan distribusi novel terlarang Pramoedya Ananta Toer. Mahasiswa mengagumi Arief Budiman, seorang pembangkang-cum-dosen Universitas Kristen Satya Wacana, yang banyak melancarkan kritik terhadap kapitalisme, liberalisme, seraya mempromosikan sosialisme. Orang suka bicara politik walau berbisik.
Suatu sore yang tenang, di sebuah pondokan di Jalan Cemara II, seorang mahasiswa menyodorkan fotokopi majalah berbahasa Inggris berisi laporan tentang Soeharto, bisnis anak-anaknya, perseteruan Jendral Benny Moerdani dan Wakil Presiden Sudharmono, Islam, Timor Timur dan sebagainya.
Saya kurang perhatikan judulnya. Tapi ada kalimat "A Reporter at Large" mencolok. Disain majalahnya agak tak lazim, model majalah kuno pada 1960-an.
"Berapa ongkos fotokopi ini?" tanya saya.
"Gampang," ujarnya singkat.
Malam itu saya baca laporan yang ditulis oleh Raymond Bonner itu. Laporan dibuka dengan isi dokumen rahasia Rand Corporation -lembaga think tank berpengaruh di Washington DC- beberapa saat setelah Shah Reza Pahlevi dari Iran tersingkir oleh gerakan revolusi Islam. Menurut laporan itu, ada tiga negara lain yang bisa meniru Iran: Korea Selatan, Filipina dan Indonesia.
Ketiganya dipimpin oleh penguasa otoriter, Chun Doo-Hwan, Ferdinand Marcos serta Soeharto, yang tak segan memanipulasi pemilihan umum, melakukan pembunuhan politik, melakukan korupsi dan dekat dengan dunia barat. Pada lapisan menengah dan bawah ada ketakpuasan yang akut terhadap Chun, Marcos dan Soeharto. Konon saking rahasianya, laporan Rand Corporation hanya dicetak 20 eksemplar dan dibagikan ke kalangan terbatas. Presiden Ronald Reagan termasuk satu di antaranya.
Perlahan laporan itu menarik saya masuk ke detail demi detail politik Indonesia. Bonner mengutip profesor-profesor Yogyakarta, mahasiwa Bandung, cendekiawan Padang, wartawan Jakarta, seorang rektor Makassar dan, bagai film kolosal, Bonner menghanyutkan pembaca, pelan-pelan memahami rumitnya sebuah negara yang bernama Indonesia.
Bonner tinggal selama dua bulan di Indonesia. Ia buat janji wawancara di Jakarta, Padang, Makassar, Yogyakarta, Bandung bahkan Darwin di Australia, ketika ia tak mendapat ijin pergi ke Timor Timur.
Bonner bicara dengan orang-orang asing yang kenal Indonesia, misalnya, Ed Masters dan Marshall Green, mantan dutabesar Amerika di Jakarta. Frederick Bunnel, profesor ilmu politik dari Amerika. Jack Whittleton dutabesar Kanada di Jakarta. Bonner juga bicara dengan Jose Costa Alves yang menjadi konsul jendral Portugis di Darwin atau gubernur Timor Timur Mario Viegas Carrascalao, pengusaha "Hotel Turismo" Dili Sebastian Calado.
Buat mahasiswa yang suka diskusi, laporan itu menyenangkan karena informasi yang jarang dimuat media massa Indonesia, tercetak lengkap dari fakta, gosip hingga rasa kecewa, marah dan kecut. Ibaratnya, saya mengerti politik Jakarta, dengan memandang cermin yang diletakkan oleh Bonner. Saya agak lupa berapa lama saya baca laporan Bonner. Semuanya 40 halaman tanpa foto. Tapi seingat saya, semalam suntuk saya pakai buat membacanya. Esok hari saya terlambat bangun.
Dalam kantuk, saya perhatikan apa nama majalah yang memberi tempat buat artikel sedahsyat ini.
Namanya ... The New Yorker.
***
BEBERAPA saat setelah Perang Dunia I usai. Ekonomi Amerika bergerak lagi, terutama di New York, kota pelabuhan dan perdagangan terpenting di negara itu yang mengundang banyak pendatang. Salah satunya adalah wartawan bernama Harold W. Ross.
Ross kelahiran 1892 di Alpen, Colorado. Sekolahnya agak berantakan. Pada usia belasan tahun, Ross memutuskan jadi wartawan. Kerjanya pindah dari kota ke kota: Sacramento, Panama, New Orleans, Atlanda sebelum jadi sukarelawan tentara Amerika Serikat dalam Perang Dunia I.
Ia dikirim ke Paris pada 1917. Tapi tak lama, Ross melakukan desersi, dasar anak badung, bukan dihukum, malah dipercaya jadi editor Stars and Stripes, mingguan tentara Amerika. Misi mingguan ini menyediakan hiburan untuk menjaga moral tentara Amerika.
Ross cukup berhasil. Ia menyajikan humor, dan kartun, bahkan menerbitkan buku tentang humor prajurit. Selera humor Ross tinggi sekali. Ia juga menikmati seni, makan enak, jalan-jalan, namun di atas segalanya, Ross muda sangat tertarik pada kata-kata. Ia mencintai sastra dan gemar melatih kepekaan kritik sastra.
Di Paris pula, teman dekat dan rekan kerja Ross, Alexander Wolcott, memperkenalkan Ross dengan Jane Grant, wartawati The New York Times. Mereka jatuh cinta, pacaran dengan hangat, hingga satu saat bicara tentang rencana mereka menikah. Grant mengajak Ross tinggal di New York. Ross menolak. New York menurut Ross adalah "kota yang menakutkan."
Grant membujuknya, dan Ross hatinya leleh, mereka menikah. Bersama dua orang teman, pasangan muda ini menyewa rumah di Manhattan, daerah paling sibuk di New York, dan menjadikannya sebuah komunitas. Di sana wartawan, seniman, pengacara, suka berkumpul dan berdiskusi seni, dan sastra.
Ross bekerja sebagai editor di sebuah majalah. Tapi lama-lama, ia berpikir untuk menerbitkan koran sendiri. Ia punya beberapa ide: sebuah harian khusus isu perkapalan, penerbitan buku, dan sebuah "majalah ringan."
Grant memperkenalkan suaminya dengan Raoul H. Fleischmann, seorang Yahudi kaya dari keluarga besar pemilik perusahaan roti. Fleischmann sebenarnya tak suka pada bisnis keluarganya. Ia menjalankan bisnis roti karena rasa pertanggungjawaban semata pada ibu dan saudara perempuannya. Ketika bisnis itu mapan, Fleischmann ingin terjun ke bisnis yang tak sekedar berdagang komoditi.
Fleischmann tertarik dengan proposal Ross. Apalagi ekonomi Amerika sedang tumbuh, tarif pengiriman pos menggiurkan, dunia periklanan butuh media nasional, teknologi cetak foto meningkat serta teknik penjilidan menjadi lebih cepat. Fleischmann bersedia jadi penerbit majalah ini, dan Ross menjadi editornya.
Ross ingin majalah ini menjadi suratkabar yang sophisticated. Artinya ia diciptakan untuk konsumsi orang-orang sekolahan, mengerti seni dan sastra, tapi butuh informasi dan analisis mendalam. Majalah ini bukan majalah berita. Ross bahkan tak suka dengan tenggat berita. Ross menekankan unsur humor dalam majalahnya. Ini tak mudah karena menulis artikel yang bisa membuat orang tersenyum, merasa lucu, lebih sulit daripada membuat laporan biasa, berisi informasi.
Ia mengajak teman-teman diskusinya untuk mengisi majalah itu. Ada yang penuh waktu, ada yang paruh waktu. Pada 21 Februari 1925 mingguan The New Yorker meluncur ke pasar. Mulanya dicetak 30 ribu eksemplar tapi ditambah menjadi 40 ribu karena permintaan pasar. Dalam setahun, format dan disain The New Yorker menemukan bentuknya.
Thomas Kunkel dalam buku "Genius in Disguise" menganggap The New Yorker sebuah ironi. Bagaimana sebuah majalah yang dianggap paling sophisticated di Amerika, ternyata lahir dari tangan seorang wartawan kota kecil, yang sekolahnya tak beres, apalagi menyandang gelar dari kampus-kampus besar macam Harvard, Yale atau Stanford.
Ini sebuah bukti lagi bahwa orang bukan sekolahan bukan tak mungkin menghasilkan karya yang bagus. Kunkel menekankan bahwa hal ini mungkin terjadi karena Ross adalah pribadi yang bisa belajar sendiri.
Kunkel membeberkan prestasi Ross secara jelas. Ross memoles orang-orang berbakat menjadi penulis hebat. Seusai membaca laporan kontributornya, Ross suka membuat satu daftar pertanyaan buat mereka. Para kontributor The New Yorker dipaksa berpikir lebih keras, menerangkan setiap ide, logika, tata bahasa, setelah membaca daftar pertanyaan Ross.
Sirkulasi The New Yorker naik, dari rata-rata 14.064 per minggu pada 1925 menjadi 46.446 pada 1926. Sepuluh tahun sirkulasinya naik jadi 128.210 dan pada 1941 jadi 171.665. Kenaikan terjadi tanpa biaya promosi besar. Antara 1927 dan 1940, The New Yorker menjadi satu dari tiga majalah top di Amerika dari segi penghasilan.
Dari sisi segmentasi pembaca, The New Yorker lebih menarik dari dua saingannya, Reader's Digest dan Time, karena separuh pembacanya tinggal di New York, kota terbesar, dan terkaya di Amerika. Antara 1925 dan 1927, Fleischmann merugi tapi dari 1928, ia beruntung. Pada tahun keempat majalah ini mendapat laba bersih (sesudah pajak) US$287,000, lalu US$486,100 pada 1929 dan meningkat US$619,400 pada 1934.
Buat Ross, menjadi seorang editor berarti menjadi anonim, memainkan peran Pygmalion, yang tersembunyi, tak terdengar dan tak kelihatan. Ross memainkan peran itu dengan sempurna, ia mempekerjakan penulis-penulis legendaris macam E.B. White, John Hersey, Wolcott Gibbs, John O'Hara, John Updike, Rebecca West dan seterusnya. Di antara para kartunis besar terdapat juga Charles Addams, Helen Hokinson, James Thurber, Roz Chast, Peter Arno dan Rea Irvin.
Menurut Brendan Gill dalam "Here at the New Yorker," selama puluhan tahun Ross menjalankan peran ayah-paman-kakak-pengasuh-pastor buat para kontributor The New Yorker. Ross meminjami duit. Ross mengirim kontributor yang sakit ke ruang operasi. Ross mengurus perselingkuhan. Ross mengurus orang mati. Ia juga menerima protes. John O'Hara, misalnya, seorang pengarang cerita pendek, selalu merengek minta honornya dinaikkan. Ia suatu saat mengirim memo, "Ross, saya butuh uang, saya butuh uang, saya butuh uang, ...."
Dari urusan serius hingga paling lucu, mau tak mau, diurusi Ross. Gill tak melihat kejengkelan Ross ketika Gill bekerja di sana. Gill merasa ia kurang diperhatikan. Ini kebiasaan semua kontributor, dari penulis hingga artis. Gill justru merasakan peran Ross setelah ia keluar dari The New Yorker.
Dengan berjarak Gill merasa bahwa Ross ternyata mengambil peran macam-macam buat orang-orang kreatif yang bekerja di The New Yorker. Dengan gaya bicaranya yang berapi-api, terkadang memaki, tapi selalu lembut pada perempuan. Ross memimpin majalah ini dengan penuh kesabaran. Terkadang gayanya meledak-ledak. Ross suka mengumpat, tentu dengan humor, di depan orang banyak. Satu saat Ross mengumpat, "Kantor ini, sebenarnya mirip sarang semut. Tak ada satu orang pun yang tak bermasalah di sini. Lihat (nama orang) yang mengaku buah pelirnya bengkak, atau (nama lain) yang mengira lubang duburnya buntu. Masya Allah, apa tak cukup masalah di dunia ini dari sekedar mengurus sampah beginian?"
Dalam "Genius in Disguise," Kunkel tak mampu menyembunyikan kekaguman pada Ross. Tapi Kunkel menjaga jarak agar bisa melihat kelemahan-kelemahan Ross. Kunkel menggambarkan Ross orang ceroboh. Ross senantiasa kekurangan uang walau penghasilannya besar. Ia acapkali ditipu orang dekatnya. Seorang sekretaris pernah meniru tandatangan Ross selama beberapa tahun hingga Ross menderita kerugian US$75 ribu tanpa sadar.
Ross menikah tiga kali, dan tiga kali gagal dengan perkawinannya. Ross pisah dari Grant pada 1927 dan cerai dua tahun sesudahnya. Mungkin Ross terlalu sibuk dengan The New Yorker sehingga tak punya waktu banyak buat keluarganya. Ross menikah dengan istri keduanya yang memberinya seorang putri.
Walau sudah cerai dengan Grant, Ross terikat kontrak memberi bantuan keuangan pada Grant. Ross juga rutin bertemu dengan mantan istri pertamanya karena Grant ikut mendirikan, dan memegang saham The New Yorker. Grant juga dibutuhkan karena ia bisa menjembatani perseteruan Ross dan Fleischmann.
***
PERANG Dunia II mengubah penampilan The New Yorker. Jane Grant mengusulkan The New Yorker dicetak khusus untuk edisi perang. Rapat pemilik saham setuju dan majalah ini menciptakan edisi mini, tanpa iklan dan ukurannya lebih kecil, khusus dibagikan buat tentara Amerika di medan perang.
Sambutan prajurit Amerika ternyata besar sekali sehingga pihak militer Amerika bersedia membayar subsidi kertas dan biaya lain sedemikian rupa sehingga edisi mini ini sampai dicetak 150 ribu pada akhir 1944. Bersamaan dengan terbitnya edisi mini, para kontributor The New Yorker lebih banyak meliput perang besar itu.
Koresponden The New Yorker A.J. Liebling pada Maret 1943 menerbitkan laporan, "The Foamy Fields," tentang sebuah kamp angkatan udara Amerika, dengan pilot, mekanik dan perwira intelijen di selatan Tunisia di Afrika utara.
Liebling datang suatu malam, tidur di sebuah tenda berlubang, bersama dua mekanik. Suasana gelap sekali, karena dilarang menyalakan lampu, yang memudahkan musuh menyerang. Liebling bahkan tak mengenal wajah teman setendanya walau mereka berkenalan dan bercakap-cakap dalam gelap. Mereka datang ketika gelap dan sebelum terang sudah keluar dari tenda.
Laporan Liebling berbeda dengan kebanyakan laporan perang lain karena ia justru tak tertarik pada masalah makro. Dia bercerita bagaimana ia berkenalan dengan pilot muda. Sambil menunggu jam patroli, para pilot itu bermain dengan anak-anak anjing, lalu membuka kiriman surat. Ada yang dapat kue kering, permen, majalah, mereka juga main kartu. Semua senang, tertawa, dan tengah hari, mereka santai menuju hanggar buat patroli rutin. "Sebentar saja," ujar seorang dari delapan pilot itu pada Liebling.
Dua jam, patroli itu kembali, Liebling kaget ketika melihat pesawat pertama mendarat dengan roda tak mau keluar dari sangkarnya. Cairan oli menetes keluar. Pendaratan yang berbahaya tapi selamat. Pilotnya penuh luka. Lalu pesawat dua, tiga, empat, lima, juga datang, tubuh pesawat penuh tembakan, kaca pecah. Tapi pesawat keenam, ketujuh dan kedelapan tak kembali.
Patroli rutin itu berubah jadi tragedi. Mereka disergap pesawat Jerman. Dan pilot yang bilang "sebentar" termasuk yang tertembak pesawat Jerman.
Liebling memakai kata "saya" untuk bercerita apa yang dilihatnya. Liebling sebenarnya bercerita tentang kegetiran perang, tentang dilema kekerasan untuk menyelesaikan pertikaian. Liebling menjadikan perang sebagai sesuatu yang dekat, yang kejam, dilihat dari jarak dekat. Banyak yang meniru gaya Liebling.
Ada kontributor yang menyaksikan langsung bagaimana bom dijatuhkan di daerah Jerman. Ia masuk ke perut pesawat bomber, mencatat anak muda yang ragu menjatuhkan bom, atau pilot yang kuatir terkena tembakan meriam anti-pesawat. Ada kontributor yang menyaksikan pertempuran di Iwo Jiwa. Ada juga yang meliput Teluk Persia. Samudera Pasifik. Okinawa.
Janet Flanner, koresponden The New Yorker di Paris, membuat cerita yang menarik tentang seorang nyonya Amerika yang melarikan diri dari Paris, lewat pemeriksaan demi pemeriksaan, hingga kembali di Amerika.
Namun, namanya juga perang, The New Yorker terpaksa memberikan toleransi terhadap laporan yang berlepotan, kiriman via kawat kadang tidak sambung, terpaksa diulang, tambah bobrok -sehingga pekerjaan editor jadi banyak melakukan penulisan ulang. Editor macam Ross memperlihatkan kekuatannya justru ketika harus mengubah laporan yang berlepotan, minta kiriman ulang, mengecek ulang fakta demi fakta, menimbang logika, dan mengubah laporan medan perang itu jadi artikel yang enak dibaca.
Saking dahsyatnya liputan kontributor macam Liebling dan Flanner, dua tahun setelah perang usai, pada 1947, majalah ini menerbitkan buku "The New Yorker Book of War Pieces." Isinya melulu liputan Perang Dunia II. Buku ini dianggap karya klasik sehingga terus-menerus dicetak ulang hingga kini.
Namun dari sekian naskah perang, tampaknya tak ada yang mengalahkan laporan John Hersey berjudul "Hiroshima" yang terbit 31 Agustus 1946. Laporan ini sering disebut sebagai karya jurnalisme terpenting di Amerika abad XX.
Hersey mulanya bekerja buat majalah Life. Alumnus Universitas Yale dan tinggal di Cambridge, kota kecil di pinggiran Boston. Wartawan muda ini suatu sore pada 1942 pergi dengan istrinya, Frances Ann Cannon, menonton sebuah pertunjukan seni.
Menurut Ben Yagoda -memanfaatkan arsip-arsip internal The New Yorker buat bahan "About Town"- Cannon memperkenalkan suaminya dengan bekas pacarnya, seorang letnan angkatan laut Amerika bernama John F. Kennedy. Kedua lelaki ini tampaknya cocok apalagi setelah Kennedy bercerita bagaimana kapalnya tenggelam di sebuah pulau di selatan Pasifik.
Selama berhari-hari, Kennedy berenang, dari satu pulau ke pulau lain, membawa anak buahnya yang luka, untuk mencari bantuan. Ia harus berhati-hati karena patroli Jepang acap muncul di perairan itu. Hersey tertarik pada heroisme Kennedy dan memutuskan untuk mewawacarai Kennedy lebih dalam beserta beberapa anak buahnya.
Hersey menawarkan laporan itu kepada Life tapi ditolak sehingga dialihkannya ke The New Yorker dengan judul "Survival." Kelak "Survival" dicetak ratusan ribu oleh keluarga Kennedy, untuk membantu kampanye John F. Kennedy menjadi senator dan, pada gilirannya, Presiden Amerika Serikat.
"Survival" juga membuat Hersey dekat dengan The New Yorker. Ketika pada akhir 1945 ia hendak pergi ke Cina dan Jepang, untuk melihat situasi pasca Perang Dunia II, ia mendatangi dulu kantor The New Yorker.
Hersey bertemu dengan William Shawn, redaktur pelaksana The New Yorker, dengan siapa ia berdiskusi sekitar 10 buah ide laporan. Satu di antaranya membuat laporan pemboman lewat kacamata penduduk kota yang dijadikan sasaran bom.
Ide ini mulanya hendak dikerjakan oleh kontributor lain terhadap kota Cologne, Jerman, yang dihujani bom sekutu. Tapi pemboman Hiroshima membuat Cologne terlihat kecil. Shawn menawarkan ide tersebut pada Hersey untuk diterapkan di Hiroshima.
Dalam perjalanan kapal laut dari Cina ke Jepang, iseng-iseng Hersey membaca novel "The Bridge of San Luis Rey" karangan Thornton Wilder yang bercerita tentang bencana alam di Peru pada abad 18. Hersey menganggap ide Wilder yang menceritakan bencana itu dari pandangan beberapa korban bisa dipakainya di Jepang.
Setibanya di Hiroshima, Hersey mewawancarai sekitar 40-an akademisi dan ahli. Tapi ia juga bicara dengan para korban, lima di antaranya orang Jepang dan satu orang pastor Jerman. Keenam orang itulah yang dijadikan Hersey sebagai karakter utama dalam laporannya.
Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Ia menceritakannya lewat pengalaman enam orang itu.
Ketika kembali ke Amerika, Hersey butuh waktu enam minggu untuk menulis. Mula-mula Hersey membuatnya jadi empat bagian, dengan harapan, The New Yorker memuatnya dalam empat nomor bersambung. Shawn mengedit keempatnya hingga selesai. Shawn merasa laporan Hersey bagus sekali sehingga ia datang ke Ross dan berkata, "Ini tidak bisa dibuat bersambung. Ini harus terbit sekali jadi." Ross agak bingung karena laporan Hersey sepanjang 30 ribu kata bakal menghabiskan seluruh halaman majalah itu.
Selama 10 hari, dari pukul 10 pagi hingga pukul 2 dini hari, Shawn dan Ross mengurung diri di kamar kerja Ross, melakukan editing laporan tersebut. Gaya Ross dalam menyunting adalah melayangkan pertanyaan tertulis. Untuk bagian pertama saja, Ross menghasilkan 47 pertanyaan buat Hersey. Ketika sudah direvisi, Hersey masih mendapat enam pertanyaan lagi. Ross bertanya hal-hal kecil, misalnya, kejelasan, konsistensi, diksi, tata bahasa atau logika. Ross memutuskan laporan Hersey bisa terbit dalam satu nomor.
Sehari sebelum diterbitkan, The New Yorker mengirim nomor awal edisi itu ke koran lain. Surat pengantarnya menjelaskan bagaimana bom itu membunuh 100 ribu dan melukai 100 ribu penduduk Hiroshima yang jumlahnya 245 ribu.
Ketika muncul di pasar, The New Yorker habis diserbu pembaca. Minggu itu tak ada media Amerika yang tak memberitakan laporan Hersey. New York Times memuatnya. New York Herald Tribune membuat ringkasannya. America Broadcasting Company membacakan laporan itu buat pendengarnya empat hari, masing-masing setengah jam, berturut-turut tanpa interupsi siaran iklan. Di seberang Samudera Atlantik, radio British Broadcasting Corporation juga membacakan naskah Hersey.
Seorang pembaca The New Yorker menulis tak seorang pun tak membicarakan laporan Hersey selama dua hari berturut-turut di seluruh New York, di restoran, di kereta api, dan di rumah. Koran-koran memberitakannya dan New York meledak gara-gara laporan Hersey.
Laporan Hersey memicu sebuah gerakan anti bom nuklir, yang gemanya terasa hingga beberapa dekade, terutama dalam suasana Perang Dingin. Laporan Hersey juga menggugah kesadaran manusia bahwa bom nuklir tak layak dipakai dalam perang, ia secara pukul rata membunuh semua orang, sipil atau militer, wanita dan anak-anak.
Laporan Hersey juga mengukuhkan The New Yorker sebagai majalah serius. Ia bukan lagi majalah ringan. Kehadirannya diperhitungkan. Konon fisikawan nuklir Albert Einstein, tak mendapatkan edisi 31 Agustus 1946 tersebut. Einstein ingin membeli 1.000 buah lagi buat diberikan ke teman-temannya. Majalah itu laku habis. Einstein tak kebagian.
***
PADA 5 Desember 1951, maut menjemput Ross karena kanker saluran pernafasan. Ia meninggalkan seorang putri, yang masih kecil, serta istri ketiga yang dalam proses perceraian. Shawn, redaktur pelaksana The New Yorker, resmi menggantikan Ross pada 21 Januari 1952.
Berbeda dengan Ross yang ramai, dan suka bergurau, Shawn orang sopan, pendiam, pemalu, walau terkadang dianggap eksentrik dan misterius. Kalau Ross senang mengirim surat dan memo, Shawn hemat tulisan, Shawn lebih suka bicara via telpon, tatap muka, atau mengirim telegram pendek. Ketika mulai bekerja, Shawn, tak menunjukkan kemampuan menulis yang luar biasa. Tapi ia teliti dalam reportase.
Tapi kesamaan Ross dan Shawn adalah kecintaan mereka pada jurnalisme. Mereka juga tak suka publikasi, dan tak mau namanya muncul dalam The New Yorker. Suksesi ini mulus karena Shawn termasuk editor senior, dan tak ada seorang pun berharap Shawn menciptakan perubahan pada The New Yorker.
Ben Yagoda menggambarkan sepuluh tahun pertama kepemimpinan Shawn sebagai biasa-biasa saja. Shawn menjaga mutu The New Yorker, tapi perlahan-lahan ia merekrut orang muda berbakat, menggantikan orang lama. Ia tak segan menelpon pers mahasiswa, mengajak wartawan muda, bergabung ke The New Yorker.
Seorang wartawan Harvard Crimson, koran mahasiswa Universitas Harvard, satu hari menerima telpon, suara sopan di ujung telpon memperkenalkan diri, "Saya William Shawn dari The New Yorker." Mahasiswa itu mengira ada teman mengerjainya. Telpon dibanting. Beberapa tahun kemudian dia sadar bahwa Shawn memang menelponnya hari itu.
Shawn, dengan gaya kepemimpinan yang sopan, perlahan-lahan mencapai lagi era gemilang The New Yorker ala Ross. Satu demi satu, artikel hebat bermunculan, mulai dari Truman Capote yang menulis pembunuhan berdarah dingin sebuah keluarga petani, hingga laporan pengadilan satu tukang jagal Nazi Jerman, yang ditangkap di Argentina dan diadili di Israel. Orang mulai berdecak kagum pada Shawn.
Pada Juni 1962 Shawn menerbitkan laporan ahli biologi Rachel Carson berjudul "Silent Spring." Laporan ini bercerita dampak pemakaian pestisida terhadap ekosistem. Pestisida mematikan serangga tapi meracuni tanaman pangan, membuat polusi lingkungan hidup, membunuh binatang lain bahkan membahayakan manusia.
Carson butuh tiga tahun untuk riset, meliput pengadilan perusahaan produsen pestisida, dan wawancara buat "Silent Spring." Karyanya dianggap monumental, karena pertama kali, dalam sejarah biologi, hubungan manusia dan alam, dijelaskan secara populer dan detail. Ketakpedulian manusia akan lingkungan hidupnya, berarti malapetaka.
Laporan Carson membuat penjualan The New Yorker meloncat tinggi. Ia setidaknya mencapai tingkat sensasi hampir sama dengan "Hiroshima" karya John Hersey. Ketika diterbitkan sebagai buku, harian New York Times mencatat "Silent Spring" sebagai buku paling laku selama 32 minggu. "Silent Spring" bahkan selama beberapa dasawarsa menjadi inspirasi gerakan lingkungan hidup modern.
Shawn juga menerbitkan esei James Baldwin, judulnya "Down at the Cross" yang risetnya mulai 1959 ketika Baldwin mengajukan proposal bepergian ke Afrika. Baldwin ingin menulis benua hitam ini, dari mana budak-budak perkebunan Amerika didatangkan. Tapi Baldwin kurang mujur. Reportasenya tak selesai.
Sebagai ganti, ia membuat sebuah esei, tentang hubungan orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika. Baldwin mengira eseinya bakal ditolak. The New Yorker tak pernah memuat esei. Ternyata Shawn menerima. Ini salah satu perubahan radikal yang dibuat Shawn. Ia merasa ketakmauan Ross memuat esei sudah saatnya ditinggalkan. The New Yorker perlu memuat ide-ide baru, agar pembaca bisa mengikuti pemikiran-pemikiran mutakhir.
Di Amerika, isu rasial adalah isu peka. Baldwin menyerang orang kulit putih liberal yang menganggap "pernyelesaian masalah Negro tergantung pada kecepatan orang-orang Negro untuk menerima dan berasimilasi dengan standar hidup orang kulit putih." Baldwin berargumentasi orang kulit hitam, sebagaimana layaknya kaum minoritas di mana pun, berhak punya kebudayaan dan standar hidup sendiri. Mereka tak harus mengikuti kehendak mayoritas!
Baldwin ikut mengompori gerakan anti-diskriminasi rasial di Amerika. Secara internal The New Yorker konsisten dengan mempekerjakan wartawan kulit hitam. Jaman Harold Ross, semua wartawan The New Yorker orang kulit putih. Tapi Shawn mengubahnya.
***
PADA 1965 ketika The New Yorker merayakan ulang tahun ke-40, media lain berlomba-lomba menurunkan laporan sukses majalah ini. Tapi seorang kontributor harian New York Herald Tribune, Tom Wolfe, ingin tampil beda. Ia minta waktu wawancara dengan Shawn, sebagaimana biasa, Shawn menolak, menolak menjawab pertanyaan tertulis, menolak melakukan verifikasi naskah Wolfe.
Wolfe jalan terus dan menerbitkan sebuah parodi dengan judul "Tiny Mummies" di mana Wolfe mengolok-olok para redaktur The New Yorker sebagai orang yang kerjanya mengawetkan ... mumi peninggalan Harold Ross. Majalah The New Yorker seakan-akan disebutnya sudah mati, tinggal mayat, yang diawetkan Shawn, yang dioloknya sebagai orang bertubuh kecil, pendiam, kalau bicara berbisik, kalau bergerak lamban.
Menurut Yagoda, dalam buku "About Town," kritik ini tak benar karena The New Yorker di bawah Shawn sudah berubah dari majalah peninggalan Ross. Dalam periode Shawn, muncul beberapa laporan hebat karya Rachel Carson, Truman Capote, James Baldwin dan sebagainya. Shawn juga memberi banyak perhatian pada Perang Vietnam, mengambil sikap yang kritis terhadap perang itu, dengan mengijinkan cendekiawan Amerika yang anti-Perang Vietnam untuk mengisi halaman The New Yorker. Shawn juga menurunkan banyak laporan soal bencana dan lingkungan hidup.
Ada dua Ross yang berpengaruh dalam hidup Shawn. Ross yang kedua, seorang wanita, bernama Lilian Ross. "Tiny Mummies" mengungkap hubungan "intim" antara Shawn dengan Ross kedua, salah seorang redaktur senior The New Yorker. Menurut Wolfe, Lillian dalam sehari bisa beberapa kali berada di ruangan Shawn. Mereka sering makan bersama, nonton teater, menikmati konser, jalan bersama dan sebagainya. Wolfe mengungkapkan masa kecil Shawn yang tak bahagia. Ia bersaudara 12 orang. Seorang teman Shawn diculik di depan mata Shawn dan ditemukan mati terbunuh.
Dibongkarnya rahasia-rahasia pribadi ini menyakitkan Shawn. Wolfe menuai 16 surat protes gara-gara laporannya. Seseorang menyebut laporan itu bukan saja "brutal" tapi memanfaatkan kelemahan Shawn, kekurangan fisik dan psikologisnya, untuk dilukai. Orang lemah, seharusnya diberi simpati, bukan diolok-olok. Laporan Wolfe, setelah dicek, juga mengandung lebih dari selusin kesalahan fakta.
Menariknya, 33 tahun setelah parodi Wolfe, Lillian Ross menerbitkan buku "Here But Not Here: A Love Story" di mana ia menceritakan romannya selama 40 tahun dengan Shawn. Lillian menceritakan bagaimana ia mulai bercinta dengan Shawn. Lillian memakai apartemen seorang bintang film, sekitar 10 blok dari apartemen Shawn, untuk menjalin hubungan asmara. Lillian merayakan setiap libur Natal bersama Shawn tapi membiarkan Shawn merayakan liburan Thanksgiving bersama istri dan anak-anaknya.
"Bill mengatakan bahwa Cecille menerima pengaturan ini. Saya pikir, 'Mungkin Cecille sangat mencintai Shawn sehingga ia membiarkan Shawn melakukan apa saja asal Shawn tetap hidup,'" kata Lillian Ross.
Renata Adler dalam buku "Gone: The Last Days of The New Yorker" mengatakan bahwa Lillian memang orang yang paling dekat dengan Shawn. Adler menyebut Lillian -yang sebagai wartawan sangat terkenal karena liputannya tentang sastrawan Ernest Hemingway dan sutradara John Houston- sebagai "istri kantor" Shawn. Jadi Shawn punya dua istri: Cecille Shawn, istri resminya di rumah dan Lillian Ross, istri kantor.
Adler menganggap terbitnya buku "Here But Not Here," bukan saja penghinaan buat Cecille dan kedua anak lelaki Shawn, tapi juga pada Shawn sendiri. Sejauh ini keluarga Shawn tak pernah mengeluarkan reaksi apa pun terhadap Lillian Ross. Shawn memang misterius. Selama 38 tahun memimpin The New Yorker, ia jarang memberikan wawancara. Shawn pendiam, pemalu, pekerja keras, dan bahkan menghancurkan banyak dokumennya sendiri, termasuk korespondensi, sehingga sejauh mana kebenaran buku Lillian Ross, juga masih misteri.
***
SEJAK awal 1970-an kalangan dalam The New Yorker mulai bicara soal siapa yang bakal menggantikan Shawn. Shawn sadar bahwa usianya sudah menginjak kepala tujuh. Pada 1978 Shawn mengirim surat pengunduran diri pada direksi The New Yorker.
Tapi dua bulan berikutnya, Shawn membatalkan niat mundur tersebut, dengan alasan banyak orang tua, antara lain, maestro seni lukis Picasso, berprestasi ketika mereka berumur 70 tahun ke atas. Editor veteran ini tampaknya kurang sreg dengan seorang wakilnya yang bakal menggantikannya. Shawn menjagokan editor yang lebih muda. Tapi orang muda ini kurang disukai oleh anggota redaksi The New Yorker. Ia dianggap kurang berpengalaman dan terlalu meniru Shawn.
Lama-lama, Shawn dianggap rewel soal penggantinya. Ia tak percaya pada orang lain. Ia juga gagal mendelegasikan wewenang. Dalam periode magang, orang-orang yang diharapkan jadi pengganti Shawn, sering tak berdaya karena Shawn membiarkan para wartawan mengabaikan mereka. Ada calon ketiga yang memilih keluar dari The New Yorker untuk jadi editor majalah lain.
Pada 1984 kinerja majalah ini mulai menurun dihantam persaingan dengan televisi maupun majalah sejenis. Perang Vietnam mempengaruhi sirkulasi The New Yorker karena sikap editorialnya yang agak melenceng dari arus besar. The New Yorker bagaimana pun banyak dibaca oleh orang mapan yang ingin liputan Perang Vietnam dibuat dengan berimbang. Ada juga isu gaji wartawan yang kurang memadai. Usul perubahan manajemen sering berbenturan dengan Shawn, sedemikian rupa, sehingga pemilik saham The New Yorker, merasa frustasi, dan akhirnya menerima tawaran pembelian saham mereka oleh Samuel I. Newhouse Jr.
Newhouse adalah pemilik konglomerat media bernama Conde Nast, salah satu kelompok bisnis media terbesar di Amerika, dengan pendapatan tahunan rata-rata US$4 milyar pada 1980-an. Walau besar, citra Conde Nast kurang baik karena produknya, macam majalah Vanity Fair, Vogue, Glamour, Mademoiselle, GQ, dianggap pasaran.
Newhouse berambisi bukan saja jadi orang nomor satu kerajaan media yang kaya, tapi juga media paling bergengsi di Amerika. Newhouse membujuk keluarga Fleischmann, untuk menjual saham mereka, sehingga Newhouse jadi pemilik saham mayoritas The New Yorker. Harga yang dibayarnya 40 persen lebih mahal dari harga pasar. Newhouse membayar total US$168 juta buat membeli The New Yorker.
Newhouse janji tak campur tangan urusan redaksi, minta Shawn mencari pengganti dari dalam The New Yorker. Tapi tiga tahun berselang, proses itu tetap tak jelas, dan ketika sudah jelas, Newhouse tak suka dengan calon pilihan Shawn. Dalam keadaan berlarut-larut, Newhouse memecat William Shawn, dan menggantinya dengan Robert Gottlieb, editor penerbit buku Alfred A. Knopf, salah satu anak perusahaan Newhouse.
Para wartawan The New Yorker protes. Tapi kedatangan Gottlieb ternyata tak jelek. Gottlieb mampu mendinginkan protes tersebut walau beberapa wartawan, termasuk Lillian Ross dan Renata Adler, memutuskan mundur dari The New Yorker.
Gottlieb mempertahankan standar mutu The New Yorker. Dalam satu dua hal, Gottlieb yang suka seni dan teater itu, dan membaca The New Yorker sejak masa kanak-kanaknya, justru memperbaiki liputan The New Yorker. Gottlieb merekrut banyak koresponden luar negeri bernama harum, antara lain Raymond Bonner dan David Remnick, masing-masing spesialis Amerika Latin dan Rusia, untuk menjaga mutu liputan luar negeri The New Yorker. Pada 1988 Gottlieb mengirim Bonner ke Indonesia dan menulis laporan panjang tentang keluarga Presiden Soeharto dan bisnis-bisnisnya.
Tapi usaha Gottlieb kurang berhasil mencegah kerugian The New Yorker. Sirkulasi praktis tak berubah, pendapatan iklan kurang memadai, pada 1993 The New Yorker rugi US$30 juta, sehingga Newhouse memecat Gottlieb, menggantinya dengan Tina Brown, seorang wartawati kelahiran Inggris, yang dianggap berhasil memajukan majalah Vanity Fair, majalah kebanggaan Conde Nast.
Pergantian ini menimbulkan reaksi keras. Orang sangsi apakah Brown mengerti makna The New Yorker buat Amerika? Apalagi Brown mendisain ulang The New Yorker. Brown menambah halaman para kontributor, lengkap dengan foto mereka, ia juga menambahkan foto ke dalam halaman-halaman dalam The New Yorker, berwarna dan hitam-putih, ia juga menciptakan halaman surat pembaca, membuat kalimat eye catching di bawah judul serta memindahkan byline di awal karangan.
Ross, Shawn maupun Gottlieb selalu meletakkan nama pengarang di akhir karangan, dengan alasan, mereka tak mau menjual nama penulis. Biarlah pembaca menikmati suatu karangan, tanpa diiming-imingi siapa penulisnya. Mereka menganggap foto, bila ada untuk melengkapi suatu cerita, cenderung hanya menjadi kelengkapan saja. Mereka suka bila laporan mereka, kuat hanya pada narasinya, tanpa perlu dibantu foto. The New Yorker melengkapi majalah mereka hanya dengan ilustrasi dan kartun.
Perbedaan lain, Brown tak segan-segan memunculkan hal-hal yang provokatif. Ia menerbitkan sebuah artikel tentang dildo -penis buatan dari plastik, alat bantu masturbasi perempuan. Satu saat Brown juga menampilkan maskot The New Yorker sebagai pemuda punk dengan kulit yang pucat. Brown juga cinta publisitas. Ia suka popularitas, menyukai wawancara dan membiarkan dirinya diiklankan bersama The New Yorker.
Bila Shawn menyukai "timelessness" -di mana The New Yorker terbit tanpa memperhatikan unsur waktu-Brown justru menyukai "timeliness" di mana kalau perlu dalam satu minggu, disain majalah diganti dua atau tiga kali untuk mengejar berita yang sedang hangat. Shawn menyukai kedalaman, Brown menyukai kecepatan.
Renata Adler dalam buku "Gone: The Last Days of The New Yorker" berpendapat majalah di mana Adler membangun karirnya itu, riwayatnya tamat bersama pengalihan kepemilikan The New Yorker dari keluarga Fleischmann ke keluarga Newhouse.
"Orang Conde Nast mengira mereka tahu bisnis dan tahu seni," kata Adler. Penerbitan Conde Nast, macam majalah Vanity Fair, memang sukses, tebal, mengkilap, penuh iklan, foto perempuan setengah telanjang, gosip selebritas, mode pakaian, gaya hidup dan sejenisnya, tapi Vanity Fair bukan tandingan The New Yorker.
Vanity Fair memang memuat laporan panjang, tapi Vanity Fair tak pernah melewati kemampuan The New Yorker dalam memuat laporan yang bukan saja panjang, tapi cerdas, dan mengejutkan macam "Hiroshima" atau "Silent Spring."
Ketika Newhouse membeli The New Yorker, ia memperkenalkan teknik penjualan dan promosi yang agresif. Orang Conde Nast giat mempromosikan The New Yorker, mereka menawarkan rabat langganan, mereka menaikkan sirkulasi, memasang iklan horizontal, memuat advertorial dan sebagainya. Brown dianggap sebagai editor yang justru "lebih dekat" dengan orang pemasaran daripada dengan wartawan-wartawannya.
Padahal The New Yorker adalah majalah dengan tradisi menjaga pagar api antara editorial dan iklan. Iklan tak salah. Tapi iklan harus dibedakan dengan berita. Ibarat pemisahan negara dan agama. Bila campur aduk, komersialisme bisa merusak jurnalisme. Bisnis media adalah bisnis kepercayaan. Dampak ambrolnya pagar api, pembaca kurang percaya dengan berita yang dibacanya. Kekaburan ini terlihat jelas dari apa yang disebut sebagai "advertorial" -singkatan dari "advertisement" (iklan) dan "editorial."
Bagi Adler, advertorial bukan kompromi kecil. Advertorial sengaja dibuat untuk mengundang mata pembaca untuk membacanya, yang dibuat dengan disain dan jenis huruf, sedemikian rupa, sehingga pembaca mengira artikel itu bagian dari berita. Padahal advertorial adalah iklan.
Kekuatan The New Yorker, di bawah kepemimpinan Harold Ross dan William Shawn, adalah kemampuannya untuk hanya diatur, ditentukan oleh rasa ingin tahu dan semangat dari para redaktur, penulis dan artis The New Yorker, tanpa kuatir dengan apa yang disukai pembaca, apalagi biro iklan dan pemasang iklan.
Tina Brown tak setia pada prinsip pagar api. Ben Yagoda dalam "About Town" menyebut Brown mencampur aduk konsep The New Yorker dengan hal lain yang tak jelas. Ironisnya, dengan segala pergantian itu, Brown juga tak berhasil menaikkan sirkulasi The New Yorker secara mendasar. Pendapatan datar-datar saja. Newhouse rugi terus karena The New Yorker.
Antara 1985 dan 1997, Conde Nast menanggung kerugian US$150 juta buat The New Yorker. Angka yang relatif kecil buat Conde Nast dengan rata-rata keuntungan US$4 milyar setiap tahun. Yagoda belum bisa menyimpulkan mengapa The New Yorker senantiasa rugi. Mungkinkah karena pasar yang berubah? Orang makin tak butuh bacaan panjang? Mungkinkah karena persaingan dengan majalah lain? Atau televisi yang menggaet prosentase iklan terbesar di antara semua media?
Pada 1998 secara mengejutkan Tina Brown mengundurkan diri. Alasan resminya, ia hendak mendirikan majalah lain. Tapi alasan itu sulit dimengerti. Mungkinkah Brown capek dikritik kiri-kanan? Mungkinkah ia lelah dengan kesendiriannya? Mungkin ia merasa tak dimengerti? Penggantinya adalah David Remnick, koresponden The New Yorker di Rusia, yang dulu direkrut Gottlieb.
Proses pergantian berjalan mulus, mungkin karena Remnick termasuk orang dalam, pernah memenangkan hadiah Pulitzer. Pekerjaan utama Remnick adalah memoles ulang pekerjaan Brown, termasuk menghapus foto seronok, foto kontributor, dan merapikan majalah itu lagi. Perwajahan The New Yorker jadi lebih dingin ketika Remnick mengambil alih kemudi The New Yorker. Walau Remnick merekrut beberapa wartawan papan atas, termasuk Seymour Hersh, mantan wartawan New York Times, yang spesialis investigasi, mungkin terlalu awal buat Yagoda dan pengamat lain, untuk menilai prestasi Remnick. Hersh adalah wartawan Amerika yang membongkar pembunuhan penduduk dusun My Lai diVietnam oleh prajurit Amerika pada 1968.
Jelas, Newhouse ingin The New Yorker, tetap jadi salah satu majalah terkemuka Amerika. Newhouse ingin majalah itu jadi kebanggaan Conde Nast. Persoalannya, sampai kapan Newhouse bisa bertahan? Seberapa cepat Remnick mampu menaikkan mutu The New Yorker di tengah persaingan yang makin ketat ini?
***
DUABELAS tahun setelah membaca The New Yorker secara sembunyi-sembunyi di Salatiga, pada satu hari yang dingin, ketika salju mulai mencair, di sebuah ruang diskusi Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Cambridge, saya hadir dalam diskusi soal suka-duka investigasi dalam jurnalisme.
Pembicaranya Raymond Bonner, wartawan The New Yorker yang bikin laporan Indonesia, pada 1988.
Ada sekitar 30 orang dalam ruangan itu. Ada beberapa wajah Asia. Kebanyakan orang kulit putih. Hanya beberapa menit, Bonner masuk dan mengambil duduk.
"Lho, orangnya kok kecil?" pikir saya.
Dalam sampul buku karangan Bonner "Waltzing with a Dictator," foto Bonner menggambarkan wajah laki-laki berwajah keras, rambutnya agak panjang, belah pinggir, agak berantakan, rahang kuat, segi empat dan bibir berkerut. Saya bayangkan orangnya pasti tinggi besar.
Bonner di ruang seminar itu ternyata kecil, untuk ukuran Amerika, mungkin hanya 170 cm, bicaranya cepat, ramah, suka tertawa, menggerak-gerakkan tangan, kelihatan selalu berusaha meyakinkan orang -mengingatkan saya pada makelar emas partikelir yang bekerja sepanjang jalan dekat toko ayah saya di Jember.
Saat itu musim semi 2000. Seusai diskusi, saya memperkenalkan diri. Bonner kelihatan senang mengetahui di sudut Amerika ini ada wartawan dari Indonesia, duduk dan mendengarkan paparannya.
Saya ingat, ia bertanya, "Apa pendapat Anda tentang Gus Dur? Dia orang baik bukan?"
Pada liputannya 1988, Bonner mewawancarai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang diperkenalkannya sebagai satu dari dua cendekiawan paling terkemuka di Indonesia. Satunya lagi Nurcholish Madjid.
Bonner kelihatan tertarik bicara soal ulama yang sempat diwawancarainya, yang kemudian menjadi presiden Indonesia keempat. Mungkin Bonner tak membayangkan Gus Dur bisa jadi presiden.
"Saya punya beberapa kenalan di Indonesia. Satu di antaranya adalah wartawan. Aduh siapa namanya ya?" ujar Bonner.
"Mungkin ..." jawab saya.
"Jangan, jangan, dijawab, saya ingat, saya ingat, saya juga ketemu istrinya yang juga editor. Ini wartawan terkenal ... namanya, namanya, ... Mohamad," kata Bonner tersenyum puas.
"Goenawan Mohamad," kata saya.
Sehari kemudian, kami ikut jamuan makan malam yang diadakan oleh Nieman Foundation di Faculty Club milik Universitas Harvard. Istri Bonner, Jane Perlez, koresponden New York Times, memberikan keynote speech tentang suka-duka liputan luar negeri.
Ketika ada kesempatan berdua, saya ceritakan pada Bonner bagaimana artikel "New Order" dari The New Yorker itu saya dapatkan di Salatiga. Artikel itu dibendel rapi, tersebar merata di kelompok-kelompok diskusi mahasiswa, yang lagi menjamur, di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta dan mungkin kota-kota lain.
"Artikel itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia," kata saya seraya menambahkan laporannya ikut mengompori gerakan mahasiswa di Indonesia.
Bonner sedikit kaget dengan adanya terjemahan itu. Dia bilang dia senang dan tertarik untuk mendapatkan satu fotokopi. Saya kira, banyak mahasiswa lebih mengerti politik Jakarta, dengan memandang cermin yang dibuat dari New York itu.
Malam itu, ketika berjalan kaki pulang, saya berpikir "New Order" mungkin tak mengubah dunia sebanyak "Hiroshima" karya John Hersey atau "Silent Spring" karya Rachel Carson. Bonner tak menulis soal bom nuklir atau bahaya pestisida. Bonner menulis soal seorang kepala negara, nun jauh di seberang lautan, yang sedang ada di puncak kejayaannya, ketika anak-anak kepala negara itu mulai merambah dunia bisnis, merampok negaranya sendiri, ketika masalah Timor Timur kelihatannya mulai sukses di tangan Indonesia.
Sejarah ternyata terbalik. Tiga tahun sesudah laporan itu ditulis, tentara-tentara Indonesia yang tak berdisiplin, membantai orang-orang Timor Timur di kota Dili. Ada wartawan asing merekamnya dalam video. Kebengisan dan kekejaman itu menyebar ke seluruh dunia. Menteri Luar Negeri Ali Alatas menganggap peristiwa Dili pada November 1991 itu sebagai titik balik diplomasi internasional Indonesia.
Tapi sang raja tetap percaya diri. Sidang MPR tetap dibuatnya sebagai stempel saja. Sepuluh tahun setelah laporan itu, Presiden Soeharto kembali merekayasa sidang MPR agar dipilih lagi. Padahal badai krisis ekonomi menerjang deras. Ekonomi Indonesia gemetar. Rupiah ketakutan. Kali ini tak ada Sudharmono, tidak ada Benny Moerdani. Wakil presiden yang ditunjuknya B.J. Habibie, seorang insinyur cerdas yang lucu, yang belasan tahun membantunya.
Soeharto hanya bertahan dua bulan. Pada Mei 1998 ia turun tahta dengan kesedihan dan malu. The New Yorker, sedikit banyak, ikut merintis tumbangnya diktator ini. (¤)
Majalah Pantau, edisi Maret 2001
0 Comments
Suryopratomo Anak Baik Bernasib Baik
Ia ingin jadi pemain bola, nasib menjadikannya pemimpin redaksi Kompas.
Oleh COEN HUSAIN PONTOH
DI kawasan Palmerah Selatan, Jakarta, ada sebuah gedung megah, terletak dekat pasar dan sebuah apartemen. Halaman parkirnya luas. Di seberang gedung itu dibangun sebuah rumah tradisional Kudus ukuran besar, berupa ukiran kayu yang indah. Inilah markas Kelompok Kompas-Gramedia, tempat harian Kompas, suratkabar paling berpengaruh di Indonesia, diterbitkan.
Di salah satu ruangan dalam gedung tersebut, ada ruang rapat, cukup untuk 20 orang, dengan pengatur suhu yang canggih sehingga dinginnya melebihi suhu Jakarta bila diguyur hujan deras sekali pun. Di ruang itulah, Suryopratomo biasa menemui tamu atau mengadakan rapat. Pembawaannya yang ramah membuat setiap pembicaraan ibarat pertemuan kawan lama. Lelaki yang murah senyum, berperawakan sedang, dan berambut pendek itu, adalah pemimpin redaksi Kompas.
Suryopratomo atau Tommy adalah bintang baru jagad industri pers di Indonesia. Ia dilahirkan di Bandung, pada 12 Mei 1961, anak kedua dari lima bersaudara dan anak lelaki tertua. Ayahnya, mendiang Soeharno Tjokroprawiro, bekas mahasiswa Institut Teknologi Bandung, awalnya seorang guru sekolah menengah di Bandung yang kemudian alih profesi menjadi seorang kontraktor. Ibunya, Siti Sofiah, seorang ibu rumah tangga.
Tjokroprawiro adalah figur ayah yang dikagumi isteri dan anak-anaknya. Ia juga sangat mempengaruhi sikap dan pilihan hidup Tommy. Tjokroprawiro menekankan pentingnya prinsip kejujuran, konservatisme, sikap rendah hati, dan tidak mengejar materi. Satu saat Tjokroprawiro mengelola perkebunan karet di Pelabuhan Ratu. Tanah perkebunan itu dibeli melalui proses lelang resmi. Tapi, tanah itu ternyata bermasalah, sehingga suatu hari pemilik tanah protes.
Oleh Tjokroprawiro, tanah tersebut diserahkan kepada pemilik semula dengan ganti rugi yang harus dilunasi dalam jangka waktu tertentu. Ini kejadian pada 1980-an. Namun, sampai batas waktu yang disepakati, ganti rugi tidak bisa dilunasi dan sesuai dengan akta perjanjian, mestinya tanah itu segera menjadi milik Tjokroprawiro. Sepuluh tahun berlalu, pemilik tanah tadi datang lagi, minta Tjokroprawiro membayar tanah tersebut dengan harga terakhir.
"Oleh ayah, permintaan itu dipenuhi. Ayah mengatakan kalau hak kamu, di mana pun akan kembali, kalau bukan hakmu ya sudah biarin, kamu kan hanya numpang hidup," ujar Tommy mengenang. Prinsip itu dipegangnya hingga saat ini.
Risiko dari ayah yang bekerja sebagai kontraktor, menyebabkan keluarga ini sering berpindah-pindah tempat. Mereka pernah tinggal di Surabaya, Bandung, Jember, Sukabumi, dan terakhir, di Bogor. Namun keuangan keluarga juga baik sehingga mereka terkadang berlibur ke luar negeri. Tommy pernah diajak ke Singapura dan Jepang. Selama masa itu, Sofiah tekun menjaga keutuhan keluarganya.
Sofiah di mata anak-anaknya adalah ibu yang tegar dan mandiri. Sofiah mengagumi suaminya. Sofiah juga dianggap kawan semua orang dalam rumah tangga. Sifatnya lembut, yang mungkin muncul karena Sofiah dibesarkan dalam tradisi Sunda, atau mungkin karena Sofiah harus mengimbangi Tjokroprawiro yang keras. Pendidikan anak-anak adalah tanggungjawab Sofiah karena Tjokroprawiro sering kerja luar.
Suryopratomo kecil merenda hari-harinya layaknya anak-anak lain. Ia suka bola dan bercita-cita jadi pemain sepakbola. Harsi Muharram, anak tertua dan kakak perempuan Tommy, ingat kegilaan adiknya terhadap bola, "Kalau disuruh ngaji, dia bilang, 'Kamu aja yang duluan, nanti saya nyusul,' sebab dia mau bermain bola."
Usai pendidikan menengah, Tommy diterima kuliah di Institut Pertanian Bogor. Di kampus inilah Tommy satu saat diajak mengelola majalah mahasiswa. Tapi ia agak ogah-ogahan, walau lama-lama ia jatuh cinta pada jurnalisme.
Pada 1986 Tommy menyelesaikan studi pasca sarjananya di IPB. Ia punya dua pilihan: menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi atau bekerja. Tommy memilih bekerja -sebuah keputusan yang ditentang Tjokroprawiro. Sang ayah menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3 karena IPB menawarinya beasiswa dan kemudian jadi dosen di sana.
Keputusannya untuk bekerja didorong perasaan tertentu, "Saya punya feeling sesuatu akan terjadi pada ayah dan saya harus mempersiapkan segala sesuatunya. Saya harus melakukan sesuatu karena saat itu adik-adik masih kecil." Tak lama kemudian Tjokroprawiro kena stroke. Kesehatannya merosot dan setelah 2,5 tahun menderita, Tjokroprawiro berpulang pada 1989.
Tommy melamar pekerjaaan di empat perusahaan. Semula ia tergiur menjadi bankir. Kebetulan saat itu sedang terjadi boom industri perbankan. Namun, hanya sebuah bank yang ia kirimi surat lamaran, tiga lainnya industri media: harian Kompas dan Suara Pembaruan serta mingguan Tempo. Hanya Kompas yang memanggilnya. Februari 1987 ia mulai bekerja di harian Kompas tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi. "Saya belajar dari ayah saya, kalau sudah menentukan pilihan, ya sudah. Jangan serakah," tutur Tommy.
Tahun itu pula, saat usianya 26 tahun, Tommy memutuskan menikah dengan Nuri Widowati, teman kuliahnya. Di mata Tommy, Nuri adalah istri yang nrimo, yang mau mengerti pekerjaan suaminya: wartawan yang tak kenal waktu. Pernikahan mereka dikaruniai dua putri, Retno Anindita dan Asri Dwi Hapsari, yang kini mulai beranjak remaja. Pengertian mendalam dari Nuri membuat Tommy makin yakin dengan pilihannya sebagai wartawan.
BUDIARTO Danudjaja, salah seorang mantan redaktur pelaksana Kompas, dan satu dari sekian wartawan yang dianggap dekat dengan Jakob Oetama, pendiri dan chief executive officer Kelompok Kompas Gramedia, mengingat Tommy sebagai "anak baik" ketika Tommy mulai bergabung di Kompas.
Sebagai reporter baru, Tommy dipindah-pindah, dari desk satu ke desk lain. Istilah wartawan adalah rolling atau diputar-putar. Budiarto ikut menentukan perputaran itu. Pada September 1991 Tommy mulai diberi tanggungjawab struktural sebagai wakil kepala desk olah raga.
Pilihan ini tak lepas dari kegemarannya main bola. Ini juga katakanlah semacam obat mengobati rasa kecewa karena gagal sebagai pemain bola. Tommy bangga jadi wartawan olah raga. Pekerjaan itu ditekuninya sepenuh hati, tanpa mengenal lelah. Satu saat ia harus berpacu antara berita yang harus dikirimnya ke Jakarta dengan gemuruh puluhan ribu penonton yang memadati stadion Olimpiade Roma, saat pemain bola legendaris Diego Armando Maradona dari Argentina mendemonstrasikan keperkasaannya di tengah lapangan. Desk olah raga mengantarnya bukan saja bersua dengan Maradona tapi juga bintang bola Belanda Marco Van Basten dan Ruud Gullit.
Kecintaan pada pekerjaan dan bola pula yang membuat pengagum berat Franz Beckenbauer, bintang sepakbola Jerman, ini "menipu" petugas stadion ketika berlangsung Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Tanpa ID Card, ia menonton secara langsung dan gratis 13 pertandingan. "Teman-teman saya dari Bangkok, sampai geleng-geleng kepala," katanya.
Di tanah air, dunia sepak bola juga tak kalah menarik. Tommy satu saat dicaci-maki Acub Zainal, ketua Liga Sepakbola Utama, karena mengungkap kasus pelecehan pemain Eli Idris terhadap mantan pelatih nasional Bertje Matulapelwa. Ini terjadi saat berlangsung pertandingan antara klub Pelita Jaya melawan Petro Kimia, di mana Eli Idris bermain untuk Pelita Jaya dan Matulapelwa melatih Petro Kimia. Setelah mencetak gol, Eli Idris berlari kegirangan, menyusuri lapangan dan tepat di depan Matulapelwa melorotkan celana dalamnya. Tujuannya menghina Matulapelwa. Menyaksikan peristiwa itu, Tommy tidak tinggal diam. Kasus pelecehan itu ditulisnya.
"Saya mengkritik keras ulah Eli Idris. Perilaku seperti itu mencoreng dunia sepakbola," tuturnya penuh semangat.
Tommy tak peduli bahwa saat itu kesebelasan Pelita Jaya dipimpin Nirwan Bakrie, seorang pengusaha ternama dari kelompok Bakrie yang suka bola. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia tak bersedia menghukum Eli Idris karena kuatir membuat Nirwan Bakrie tak senang. Kelompok Bakrie salah satu donatur terbesar organisaisi sepakbola nasional itu.
Tapi Tommy tak menyerah, ia terus menulis agar Eli Idris dihukum dan karena pemberitaan yang gencar Acub Zainal marah. "Kamu pikir Eli Idris benar-benar melorotkan celana dalamnya, hah? Apa kamu bisa melihat barangnya Eli?" ujar Tommy meniru Zainal.
Eli Idris akhirnya dihukum PSSI. Tidak jera dengan kasus itu, Tommy pernah mendesak ketua PSSI Kardono agar mundur karena tak becus.
Pada 16 Agustus 1992, Tommy dipindahkan ke desk ekonomi sebagai wakil kepala desk. Jabatan ini digenggamnya tiga tahun, sebelum ia dipromosikan kembali ke desk olah raga sebagai kepala desk. Menurut Tommy, sebenarnya ia dipromosikan menangani rubrik nasional pada 1997, tapi entah kenapa batal, yang rupanya mengandung hikmah tersendiri baginya.
Pada 3 Agustus 1998, Tommy dipromosikan sebagai wakil redaktur pelaksana. Tak sampai setahun, atau dua minggu menjelang jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya, Tommy dipromosikan sebagai redaktur pelaksana. Nasib baik terus mendampinginya, tepat sembilan bulan sesudahnya, 1 Februari 2000, Tommy ditunjuk oleh Oetama menggantikan jabatan Oetama sebagai pemimpin redaksi harian dengan tiras sekitar 500,000 itu.
Ini pertama kalinya terjadi suksesi kepemimpinan redaksi Kompas sejak suratkabar itu berdiri pada 1965. Oetama menyerahkan urusan redaksi Kompas pada Tommy walau Oetama tetap menjaga sebagai pemimpin umum Kompas yang membawahi baik urusan redaksi maupun bisnis harian itu. Oetama juga tetap jadi chief executive officer Kelompok Kompas Gramedia yang memiliki puluhan perusahaan, baik di bidang media, maupun perhotelan, toko buku dan sebagainya.
Pergantian ini terjadi ketika suasana politik Indonesia berubah secara besar-besarnya. Mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah berkuasa sejak 1965 sebagai orang nomor satu Indonesia, membuat perubahan besar-besaran di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, militer dan juga media. Cara pandang media dan pekerjaan mereka kelihatannya harus berubah. Kelompok media besar, satu demi satu mulai melakukan regenerasi. Goenawan Mohamad menyerahkan kepemimpinan redaksi Tempo kepada Bambang Harymurti. Perubahan juga terjadi di jajaran redaksi Jawa Pos, RCTI, SCTV dan lainnya ketika media baru juga bermunculan di mana-mana.
Maria Hartiningsih, salah satu wartawan Kompas, berpendapat bagaimana pun juga Kompas perlu segera berbenah diri. Menurutnya perubahan dalam tubuh redaksi Kompas, termasuk pergantian Oetama dan pengangkatan Tommy, tak bisa dilepaskan dari perubahan yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan.
Jakob Oetama dan kawan-kawannya pada manajemen Kompas, memutuskan generasi yang lebih muda perlu mulai memimpin Kompas. Pergantian Tommy, yang sekaligus membawa perubahan redaktur-redaktur lain dalam struktur organisasi Kompas, termasuk pemilihan Bambang Sukartiono sebagai wakil pemimpin redaksi, adalah bagian dari proses regenerasi itu. Menurut August Parengkuan, salah satu letnan Oetama, yang juga pernah dibicarakan sebagai calon pengganti Oetama pada 1990-an, regenerasi inilah yang mendasari mengapa Tommy dipilih. "Pak Jakob ketika pertama kali memimpin Kompas, usianya baru 35 tahun," tutur Parengkuan.
Perjalanan karier Tommy ibarat anak panah. Tommy mengaku ia tak punya ambisi menjadi editor harian terbesar di Indonesia ini. Ia juga tak merancang strategi khusus untuk jadi orang nomor satu Kompas. Tapi hanya dalam 13 tahun ia mencapai posisi itu, menyisihkan banyak orang hebat lainnya di Kompas. Lalu, dalam dua tahun terakhir ia naik tiga pangkat dari wakil redaktur pelaksana, redaktur pelaksana, dan akhirnya, pemimpin redaksi.
Budiarto Danudjaja, yang kini bekerja buat Lippostar.com, berpendapat bahwa Kompas ibarat "Indonesia mini" di mana ada orang macam Letnan Jenderal Prabowo Subianto atau Abdurrahman Wahid, yang masing-masing punya loncatan karier yang mengejutkan. Prabowo butuh waktu dua tahun dari kolonel ke letnan jenderal. Wahid menjadi presiden Indonesia setelah memenangkan pergulatan di parlemen di mana partainya hanya memenangkan sedikit kursi.
Tapi Budiarto cepat menambahkan bahwa ungkapan itu tak berarti Tommy juga bakal punya nasib macam Prabowo yang dipecat dari ketentaraan karena melakukan penculikan terhadap aktivis hak asasi manusia.
Cita-cita Tommy ketika melamar kerja Kompas, semata-mata karena ingin jadi penulis, tidak lebih. Karena itu, ketika majalah Tempo menulis Tommy sejak awal mengincar jabatan bergengsi itu, Tommy sewot. Sebagai wartawan Kompas, ia merasa jam terbangnya masih rendah untuk menduduki posisi bergengsi itu. Dibandingkan redaktur-redaktur Kompas senior, misalnya Parengkuan, St. Sularto atau Ninok Leksono, pengalaman kerja dan kapasitas intelektualnya tak istimewa. Dari segi usia ia terbilang muda, 39 tahun, sehingga jika harus berlomba ia tak sanggup.
Tommy memandang pekerjaan barunya sebagai penugasan. Kalau penugasan, Tommy sudah banyak makan asam garam. Baginya, penugasan hal yang biasa dan setiap wartawan Kompas harus siaga 24 jam. Penugasan sebagai pemimpin redaksi, di matanya, sama dengan penugasan sebagai wartawan olah raga. Menurut Parengkuan, untuk hal ini kinerja Tommy tidak perlu diragukan. Parengkuan bangga dengan hasil kerja Tommy selama ini, "Kalau saya dan Pak Jakob pensiun atau apa pun yang terjadi, kami sudah plong."
PENGANGKATAN Tommy tak bisa menampik kesan bahwa kemunculannya agak mengagetkan. Mengapa bukan Parengkuan, Leksono, Sularto, atau Ace Suhaedy Madsupi, yang dipilih Jakob Oetama sebagai ahli warisnya? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Kompas sehingga Tommy yang relatif muda yang dipilih?
Pertanyaan lumrah. Sebagai figur tidak banyak yang mengenal Tommy, kecuali kalangan wartawan dan handai taulannya. Ia bukan public figure yang laris manis diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum. Ia juga bukan orator seperti Oetama, yang memukau audiens. Seperti wartawan Kompas umumnya, Tommy adalah wartawan profesional, yang berusaha keras menyajikan berita seakurat mungkin untuk memenuhi kebutuhan pembaca akan informasi yang benar.
"Dalam hal kerja," kata Tommy, "nomor satu saya senang dengan pekerjaan itu, yang kedua saya kerja untuk keluarga saya, baru untuk hasilnya mudah-mudahan bermanfaat buat perusahaan saya."
Tommy adalah prototype profesional yang andal, yang bekerja berdasarkan prestasi dan memimpikan kesuksesan karya. Juga tak mengherankan bahwa wartawan yang dikaguminya adalah Jakob Oetama dan Goenawan Mohamad, penyair-cum-editor pendiri majalah Tempo. Tak ada yang istimewa. Tak istimewa pula jika Tommy yakin kebersihan dan ketenangan batin adalah modal utama untuk menghasilkan karya gemilang. Ia menolak tegas jika kesuksesan seseorang ditentukan jumlah kekayaan yang dimiliki.
Tapi apa karya Tommy yang memungkinkannya layak menjadi pemimpin redaksi? Kecuali sebagai wartawan olah raga yang memukau, dan diam-diam dikagumi pembacanya, tak banyak yang bisa dijadikan referensi. Kasak-kusuk berkembang di kalangan media. Yang paling santer, Tommy dipilih untuk menghindari pertarungan faksional yang semakin menajam di dalam tubuh Kompas.
Majalah Tempo, 13 Februari 2000, melaporkan bahwa menjelang Oetama menyerahkan kedudukan pemimpin redaksi, para awak Kompas terbagi dalam tiga kubu: kubu August Parengkuan, kubu Ninok Leksono, dan kubu St. Sularto. Masing-masing lengkap dengan pendukung setianya yang jika dibiarkan terus pasti akan menghancurkan kinerja Kompas. Jadi, Oetama memilih Tommy demi keutuhan Kompas.
Namun, kasak-kusuk ini agak sulit dibuktikan. Hampir seluruh wartawan dan bekas wartawan Kompas meragukan ada kubu-kubu. "Memang di Tempo, saya baca di Kompas seolah-olah ada klik, kadang-kadang kita ketawa juga, klik di mana itu?" tutur Tommy.
Begitu pula kata Leksono, "Di Kompas tidak ada faksi-faksian. Semuanya berjalan secara egaliter." Menurut Leksono, diangkatnya Tommy bukan pilihan main-main, karena masa depan Kompas adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dijadikan taruhan.
"Kalau benar bahwa di Kompas ada faksi-faksian," demikian Edy Lahengko, mantan wartawan olah raga Suara Pembaruan, seorang teman akrab Tommy, "ia sama sekali netral. Ia tidak berkelompok dan saya kira itu yang menjadi pertimbangan utama mengapa ia dipilih sebagai pemimpin redaksi."
Sang maestro, Jakob Oetama kepada majalah Swa mengatakan, "Memang sebelumnya ada dua calon, Suryopratomo dan Bambang Sukartiono. Tapi, Sukartiono menolak dengan alasan agak pemalu dan lebih suka di bagian lain." Sukartiono akhirnya diberi jabatan wakil pemimpin redaksi.
Mungkin benar bahwa tidak terjadi perkubuan, terlebih dengan adanya Oetama yang sangat dominan. Lebih tepat, jika dalam proses pemilihan pemimpin redaksi itu muncul suara-suara sumbang dan kritis. Sebab, seperti dituturkan Bambang Wisudo, seorang wartawan Kompas, yang aktif dalam masalah perburuhan bersama Aliansi Jurnalis Independen, penunjukan Tommy adalah "hak prerogatif" Oetama. Hal sama dikatakan rekan Wisudo, Salomo Simanungkalit bahwa sesungguhnya tidak ada proses demokratis untuk menjadikan Tommy sebagai pemimpin redaksi.
Tidak ada pemilihan yang terbuka sampai diketahui seluruh anggota redaksi. "Saya tidak tahu apakah ada proses pemilihan di tingkat pimpinan. Saya juga tidak tahu apakah Jakob ketika memilih Tommy berkonsultasi dulu dengan para pemilik saham," ujar Simanungkalit. Ketika saya tanyakan, mengapa bukan Ninok Leksono, August Parengkuan atau Ace Madsupi yang dipilih, Simanungkalit malah bertanya, "Apakah mereka lebih pantas daripada Tommy?"
Suryopratomo sendiri tak ingat pasti mengapa ia dipilih. Yang ia tahu, awal tahun 2000, Oetama memangggilnya ke ruang rapat yang dingin milik Kompas di kawasan Palmerah Selatan. Di ruang itu, ada Parengkuan dan Sukartiono. Oetama minta Tommy jadi pemimpin redaksi. Spontan ia menolak permintaan Oetama, dengan alasan jam terbangnya masih minim. Lagipula, ia masih ingin jadi reporter lapangan. Tommy menyodorkan nama Parengkuan dan Sukartiono. Tapi, Parengkuan dan Sukartiono, yang duduk bersama Oetama, menolak mengambil jabatan itu, sehingga Tommy merasa tak punya pilihan lain selain menganggapnya sebagai penugasan.
Tetapi, menurut Parengkuan, Tommy dipilih karena ia merupakan yang terbaik di antara yang baik.ĂŠKata Parengkuan, proses penentuan Tommy cukup demokratis dan lama. "Dalam rapat-rapat redaksi nama Tommy sudah mulai disebut-sebut, dan kami kemudian memberitahu seluruh wartawan tentang siapa yang menjadi kandidat pemimpin redaksi. Memang ada yang kritis, tapi kemudian akhirnya setuju. Apakah itu tidak demokratis?" kata Parengkuan.
Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas mendukung pendapat Parengkuan. Menurut Hartiningsih, suatu ketika ia ditanya Parengkuan mengenai siapa yang lebih layak menjadi pemimpin redaksi: Suryopratomo atau Sukartiono. Hartiningsih memilih Suryopratomo.
Parengkuan menuturkan riwayat pemilihan Tommy. Sejak 1990, Oetama meminta Parengkuan memimpin Kompas. Tapi, Parengkuan menolak tawaran itu. "Saya nggak bisa membayangkan kalau Pak Jakob tidak lagi menjadi pemimpin redaksi," katanya. Ia juga merasa tak disukai Harmoko yang saat itu menjabat menteri penerangan, sebuah jabatan yang sangat menentukan naik-turunnya media dalam pemerintahan rezim Soeharto. Dalam perjalanan waktu ketika usia terus bertambah, Parengkuan merasa peluangnya menjadi pemimpin redaksi semakin tipis. "Tongkat estafet kepemimpinan harus segera dialihkan kepada generasi yang lebih muda," katanya, bersemangat.
Bagi Parengkuan dan Oetama, situasi politik Indonesia yang berubah cepat dan munculnya peristiwa-peristiwa penting, menuntut kemampuan ekstra, baik dari segi mobilitas kerja maupun profesionalisme. Kemampuan itu tak lagi mereka miliki. Keduanya merasa lelah untuk terus berpacu.
Faktor kemudaan Tommy dan rombongannya hanya merupakan salah satu variabel saja. Profesionalisme, idealisme, dan leadership merupakan variabel yang tidak bisa diabaikan. Untungnya, sistem kerja, corporate culture dan mekanisme Kompas, sudah relatif mapan. Siapa saja yang memimpin Kompas tak menjadi masalah, apalagi banyak wartawan senior bersedia membantu pemimpin yang baru. Ini artinya, kriteria yang diajukan Parengkuan bukan hal yang tipikal melekat pada diri Tommy. Banyak wartawan Kompas memenuhi persyaratan itu. Tetapi, mengapa Tommy yang dipilih?
SEKARANG industri media tak hanya berhubungan dengan soal produksi informasi. Media juga bukan berkutat di antara wartawan dan teknologi percetakan. Media sarat muatan politik dan ekonomi. Melalui media, kesadaran manusia direkayasa dan persepsi manusia mengenai realitas dibentuk dan diarahkan. Terlebih dalam suasana demokratis, peran dan fungsi media sangat vital. Credo yang laris diucapkan adalah, "Siapa yang menguasai media, dialah yang paling hegemonik."
Rasanya, pernyataan Parengkuan terlalu simplistis jika meletakkan kriteria profesional, leadership, dan kemampuan intelektual sebagai basis utama penunjukan Tommy. Subyektivitas memang penting, tapi tidak mesti relevan. Kepentingan subyektivitas menjadi relevan ketika sanggup dikompromikan dengan kepentingan pemilik modal dan penguasa politik. Oleh karena itu, kriteria utama seorang pemimpin redaksi dari sebuah media besar semacam Kompas, adalah bagaimana menjaga agar Kompas tetap mapan.
Untuk mencari jawaban itu saya mewawancarai Satrio Arismunandar, mantan wartawan Kompas, yang diminta mundur dari Kompas (dengan golden shake hand) setelah ia pada 1994 ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Indepeden, yang tak disukai pemerintahan Soeharto dan Menteri Penerangan Harmoko. "Untuk menjadi pemimpin Kompas, harus figur yang non ideologis. Kalau ideologis pasti tersingkir," kata Arismunandar, sekarang bekerja di bagian penelitian dan pengembangan harian Media Indonesia.
Menurut Arismunandar, Tommy memang jauh dari hiruk-pikuk pergulatan politik yang jatuh bangun, apalagi terlibat dalam perkubuan dan konspirasi politik tingkat tinggi, baik di dalam maupun di luar Kompas. Tommy, misalnya, tak tertarik masuk Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, seperti yang dilakukan sejumlah seniornya ketika organisasi pimpinan Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie itu memiliki dominasi politik Indonesia pada 1990-an. Tommy juga tak dekat dengan para jenderal, seperti kedekatan beberapa rekannya dengan Jenderal Benny Moerdani saat Moerdani menjadi orang kuat militer pada 1980-an.
Dunia Tommy adalah tulis-menulis dan ia sangat menikmatinya. Olah raga membuatnya relatif tak tersentuh dengan kepentingan politik Indonesia yang centang perentang. Ia cinta bola, ia menulis bola, ia terkadang juga masih main bola. "Tak ada yang lebih bahagia selain dari membaca tulisan sendiri," kata Tommy. Bagi Tommy, profesionalisme dalam kerja jurnalistik adalah harga mati, dan ia percaya koran yang baik adalah koran yang non partisan. "Yang benar adalah fakta, bukan opini," ujarnya. Jalan lurus yang ditapaki Tommy itulah, menurut pengakuan Parengkuan, yang menyebabkan dirinya dan Jakob Oetama menjatuhkan kepercayaan padanya.
Sekarang apa yang bakal dilakukan pemimpin redaksi Kompas Suryopratomo?
Diam-diam, dalam pembicaraan dengan berbagai wartawan Kompas, saya menangkap kesan mereka menunggu apakah Tommy bisa melepaskan diri dari bayang-bayang sang magister Jakob Oetama?
Tommy sendiri tak antusias mengejar popularitas dan kewibawaan Oetama. Ia tak ingin menjadi Jakob Oetama, walau mengakui bahwa Oetama adalah guru dan idolanya. "Untuk menjadi seorang Jakob Oetama tidak mudah," ujar Tommy.
Untuk keluar dari bayang-bayang Oetama, terlebih jika hendak membuat perubahan drastis, jelas membutuhkan waktu yang panjang. "Setahu saya," demikian penuturan Arismunandar, "Kompas adalah koran yang paling konservatif. Untuk sebuah perubahan kecil saja, membutuhkan waktu yang lama."
Tapi harapan perubahan pada Tommy ditangkis Hartiningsih. "Tidak fair menilai kinerja Tommy hanya dalam sepuluh bulan ia menahkodai Kompas. Tidak benar Tommy hanya juru bicara Pak Jakob," kata Hartiningsih.
Karena itu, yang lebih bernilai adalah bagaimana melihat reaksi Tommy berhadapan dengan perubahan situasi ekonomi politik global dan nasional. Tommy bagaimanapun, tak mengabaikan sisi negatif dari menjamurnya industri media di Indonesia. Dengan iklim persaingan ketat, tak jarang banyak media kurang mengindahkan kaidah-kaidah jurnalisme yang benar. Semua berlomba menjadi yang terdepan dengan kualitas seadanya. Kekuatiran Tommy bukan pada pertumbuhan jumlah media yang pesat, dan persaingannya yang ketat, tapi pada mutu sumber daya manusianya. Ia mencontohkan, di Indonesia laporan investigasi belum dilakukan, atau kalau sudah dilakukan tidak berkualitas.
"Saya khawatir industri pers akan sama nasibnya dengan nasib industri perbankan. Ketika Paket Oktober 1988 (kebijakan pelonggaran syarat pendirian bank) diluncurkan, dalam waktu singkat terjadi boom sektor perbankan, di mana-mana bermunculan bank-bank baru. Tetapi, karena sumberdaya manusianya tidak dipersiapkan yang ada sebenarnya hanyalah bank-bank yang sebetulnya tidak kredibel, keropos, dan akhirnya tumbang. Kini, hampir seluruh bank-bank tersebut dilikuidasi atau di-take over pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional," katanya. Ledakan itu pula yang secara tak langsung mendorong terjadinya krisis ekonomi Indonesia pada 1997-1998 di mana nilai rupiah jatuh hingga 70 persen terhadap dollar Amerika.
Tommy berpendapat, dalam iklim persaingan bebas ada dua hal yang menentukan independen tidaknya pers: fakta dan keserasian antara bisnis dan idealisme. Ia berpegang pada dua pedoman itu. Contoh. Satu ketika Kompas menurunkan feature yang berisi kritik arsitektur bangunan di kawasan Puncak, Bogor. Di terbitan yang sama, Kompas memuat iklan produk real estate pengembang dari bangunan yang arsitekturnya dikritik itu. Akibatnya, pengembang tadi berang dan memutuskan kontrak iklan senilai Rp 800 juta. Tommy tak gusar, fakta adalah fakta dan tidak boleh dikalahkan uang berapa pun besarnya.
Kiat Tommy mempertahankan keserasian antara bisnis dan idealisme adalah memisahkan secara tegas pekerjaan keredaksian dengan pekerjaan bisnis. Pemisahan antara redaksi dan bisnis adalah gagasan yang ditanamkan oleh pendiri Kompas PK Ojong. Dengan memisahkan redaksi dari bisnis, maka pembaca bakal tahu bahwa informasi yang dibacanya bisa dipercaya karena tak dinodai kepentingan bisnis suratkabar bersangkutan.
Kenyataan itu mendorong Tommy untuk bersikukuh bahwa ia tidak mau turut campur soal bisnis, bahkan ia tak bersedia mengikuti rapat umum pemegang saham. Ia ingin independen. "Bisnis saya larang keras mengintervensi redaksi. Jumlah iklan tidak boleh lebih dari lima puluh persen. Lebih dari itu saya gunting," ujarnya.
Bagaimana dengan advertorial yang semakin banyak menyita ruang Kompas? Kata Tommy, advertorial tidak dikerjakan redaksi, namun oleh bagian iklan yang belajar cara menulis dari redaksi.
Tommy hanya mengikuti rapat besar antara redaksi dan usaha untuk menentukan anggaran redaksi Kompas. Bisnis Kompas dan anak perusahaan yang tergabung dalam Kelompok Kompas Gramedia ditangani sepenuhnya oleh Jakob Oetama.
OMMY punya keinginan mulia. Ia ingin jabatan pemimpin redaksi tak jadi monopoli satu orang selama bertahun-tahun. "Cukup Pak Jakob yang menjadi pemimpin redaksi selama 35 tahun. Saya sendiri hanya ingin menjabat selama lima tahun dan boleh dipilih kembali selama satu periode. Setelah itu, saya ingin kembali ke lapangan, meliput dan menulis berita, seperti wartawan-wartawan asing yang sudah tua-tua itu," katanya.
Sebagai wartawan olah raga, ia menimba pelajaran berharga dari dunia itu. Tommy mengibaratkan pergantian pemimpin redaksi dengan perlombaan balap sepeda. Dalam lomba sepuluh putaran, setiap pembalap bergantian menjadi pemimpin, sehingga passing-nya bisa tinggi karena selalu ada tenaga baru. "Jika narik sepuluh putaran jelas tidak mungkin, karena itu setiap satu putaran, yang berada di belakang ganti memimpin, putaran berikutnya juga demikian. Sehingga makin lama makin cepat, karena tenaga yang di belakang lebih cepat daripada yang di depan, mengikuti aerodinamisnya."
Gagasan pergantian editor yang cepat itu juga terinspirasi model kepemimpinan di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, setiap orang yang memenuhi kualifikasi bisa menjadi rektor, tetapi ketika masa jabatannya berakhir, tidak otomatis kehilangan jabatan. Dia bisa menjadi guru besar dan harganya sebagai seorang guru besar dan sebagai seorang rektor sama, bahkan kadang-kadang harga seorang guru besar bisa lebih tinggi. "Saya ingin Kompas menggunakan pola seperti itu, sehingga jabatan pemimpin redaksi tidak dilihat sebagai jabatan paling bergengsi," tutur Tommy dengan mimik muka serius.
Terkadang Tommy merasa jabatan pemimpin redaksi sebuah musibah. Ayah dua anak ini sekarang lebih banyak berurusan dengan pekerjaan yang sifatnya seremonial. Tugasnya beragam, dari membangun relasi Kompas, memimpin rapat redaksi hingga menghadapi protes dari pembaca.
"Hingga saat ini, saya sudah tiga kali diprotes," katanya. "Dan yang paling lucu, ketika Kompas diprotes karena memuat iklan nikah tamasya," katanya pada saya.
"Ceritanya begini," demikian Tommy berkisah. "Ada sepasang suami istri yang menikah tamasya, kemudian pasang iklan di Kompas. Ternyata sang suami masih memiliki hubungan dengan istri tuanya. Membaca iklan tersebut, istri tua menuntut Kompas sebagai tergugat dua, karena memuat iklan itu. Saya terkejut. Saya katakan, kami memuat iklan karena dia punya surat menikah tamasya, bukan karena bersekongkol dengannya. Gila apa?"
Protes banyak datang ke mejanya. Ini bikin pusing kepala. "Pokoknya saya hanya satu periode, hanya satu termin saja," katanya jengkel.
Tommy juga kehilangan waktu menyaksikan siaran langsung sepakbola yang biasa disiarkan televisi pukul dua pagi dari daratan Eropa. Pada jam selarut itu, Tommy harus tidur kalau ingin tak terlambat masuk kantor esok harinya. Sebagai pemimpin redaksi, ia harus tiba di kantor pukul delapan pagi, memimpin rapat perencanaan.
Tetapi, apapun lakon yang dipentaskannya saat ini, ia merasa sangat bersyukur. "Saya mengerjakan semuanya dengan senang hati," katanya. Kini, hari-harinya diisi dengan rutinitas. "Saya ke kantor pukul delapan pagi dan baru pulang larut malam. Dalam sehari saya dua kali rapat, pukul sembilan pagi rapat perencanaan dan pukul enam sore rapat budgeting berita".
Apa yang hendak dikerjakannya saat ini, hanyalah membawa Kompas keluar dari mitos, bahwa ketika sebuah perusahaan keluarga dipimpin oleh generasi ketiga, pasti ambruk. Tommy ingin Kompas seperti The New York Times atau The Washington Post, dua koran kenamaan dari Amerika, yang bisa bertahan hingga satu abad, dan itu tanggung jawabnya kini.
Suryopratomo bertekad menjadikan Kompas media yang mampu memberikan perspektif kepada pembacanya. Ia juga berharap Indonesia masa depan yang demokratis dan menghargai pluralitas. Baginya, itu tugas dan tanggung jawabnya sebagai wartawan yang kebetulan menjadi pemimpin redaksi dari harian terbesar dan terkuat di Indonesia. Kompas. (¤)
(Majalah Pantau, edisi Maret 2001)
Friday, May 21, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment