
Mengingat guru, mengenang samudera keikhlasan. Apalagi jika menyimak sepenggal sajak satir Prof. Winarno Surachmad, yang dibacakan saat peringatan hari PGRI ke-60 di Solo, secuil waktu silam.
"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap dalam kondisi terburuk,"
"Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"
Ahh, sudahlah. Getir rasanya mendengar pilu mereka. Bukan sebuah kebetulan jika Dompet Dhuafa (DD) Bandung kemudian menggagas program myteacher. Sebuah program upgrading guru cuma-cuma, khusus bagi Guru Bantu, Honorer dan Sukarelawan yang kerap termarjinalkan oleh kebijakan.
Diskusi berjalan cukup panjang di internal Lembaga sebelum mengerucut pada guru sebagai focus program. Ada yang berkeras bahwa siswa adalah permasalahan terbesar dunia pendidikan negeri kita saat ini. Alasannya, angka putus sekolah yang cukup tinggi, mencapai angka 4 juta siswa/i di seluruh Indonesia.
Itu yang putus sekolah. Belum lagi yang buta aksara. Neni Utami adiningsih, penggagas Forum Studi Pemberdayaan Keluarga menuliskan dalam artikelnya, berdasarkan data Disdik Jabar menunjukkan, angka buta aksara di negeri ini mencapai 1,34 Juta Jiwa dari 29,5 juta penduduk usia 15-44 tahun. Hal ini menempatkan Jabar sebagai "juara ke-3" se-Indonesia dalam hal jumlah penyandang buta aksara.
Lalu mengapa tetap guru yang dipilih sebagai fokus program DD Bandung? Itupun masih diperas lagi, khusus bagi guru bantu dan honorer.
Antar siswa dengan guru, keduanya tentu saling terkait. Masalahnya hanya soal prioritas. Mana yang akan dilakukan terlebih dahulu, sesuai kemampuan yang dimiliki.
Harus diakui, negeri ini membutuhkan banyak tenaga pengajar sesuai dengan kuantitas penduduk yang cenderung terus meningkat. Bukan guru yang sekedar asal cuap-cuap mengajar di depan para siswanya, tapi yang memiliki kompetensi mumpuni, agar peserta didiknya pun kelak dapat mengimbangi tuntutan zaman. Artinya, kemampuan penguasaan materi seorang guru sangat menentukan mutu peserta didiknya kelak. Dan penguasaan materi, tentu saja bisa didapat salah satunya dengan mengikuti berbagai pelatihan/ upgrading yang relevan dalam rangka pencapaian tujuan yang dimaksud.
Data Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas menuliskan kebutuhan guru sampai dengan 2008 adalah 1.800 guru TK, 163.397 untuk guru SD, 80.824 untuk guru SMP, 32.414 untuk guru SMA, dan 14.226 untuk guru SMK jadi total guru yang diperlukan 292.661 orang.
Bicara Bandung, Dinas Pendidikan Kota Bandung mencatat total guru bantu dan honorer 2007 di Kota Bandung saja berjumlah 13.352 orang. Sementara, di Jawa Barat, jumlah guru tenaga kontrak, baik yang berstatus guru bantu, kontrak daerah, dan guru honorer di Jawa Barat, berkisar 100 ribu-an orang.
Khusus guru bantu dan honorer ini, seringkali, mereka yang diutus pihak sekolah untuk mengikuti upgrading, atau beragam sarana peningkatan kualitas pengajaran lainnya adalah guru-guru yang sudah menyandang status PNS, atau minimal guru tetap. Padahal, meski dari sisi pendapatan relatif jauh dari standar hidup layak, porsi pekerjaan guru tidak tetap (honorer), dan sukarelawan, tak jauh berbeda dengan guru berstatus PNS. Jangankan berpikir untuk biaya peningkatan kualitas mengajar, untuk hidup sehari-hari pun para guru, khususnya guru bantu, honorer, dan sukarelawan, terengah lelah. Logis jika hal ini kerap menciptakan jurang kesenjangan diantara mereka.
Tak heran, jauh hari sebelum DD Bandung merilis program myteacher, Rabu (17/9) lalu, 1000 quota pendaftar yang terdiri dari Guru Bantu, dan honorer di wilayah Jawa Barat sudah terisi penuh. Bahkan, tak sedikit yang harus gigit jari, karena pendaftaran sudah ditutup sebelum waktunya.
Yang membuat hati ini begitu miris, diantara 1000 peserta pendaftar Launching myteacher, cukup banyak yang masa pengabdiannya sebagai guru Bantu dan honorer di sekolah masing-masing, di atas 10 tahun, bahkan 25 tahun. Mereka rata-rata berpenghasilan di bawah 750 ribu Rupiah sebulan. Ada pula yang hanya menerima honor 100 ribu sebulan, untuk menyambung nafas kehidupan.
Dudu Hidayat misalnya. Genap 14 tahun masa pengabdian dia di SDN Sumber Sari, Sapan, Kabupaten Bandung. Status masih guru tak tetap, dengan penghasilan di bawah Rp 500 ribu. Lalu, Agus Ma'mun Muchtar. Guru bahasa Arab. 20 tahun masa pengabdian di Mts As-Syariffiyah, Jl. Komud Supadio, Bandung. Penghasilan antara 500-700 ribu. Sampai kini, statusnya masih sebagai guru tidak tetap. Drs. Cucuy. Guru bahasa Arab. 23 tahun masa pengabdian di Mts Bojong Citepus, Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Penghasilan antara 500-700 ribu. Sampai kini, statusnya masih sebagai guru honorer.
Fakta ini menunjukkan, betapa antusiasme para guru Bantu dan honorer di wilayah Jawa Barat untuk mengikuti pelatihan-pelatihan upgrading semisal myteacher, begitu tinggi. Idealisme mereka tak bergeming. Dengan kondisi serba memprihatinkan, para pahlawan tanpa tanda jasa ini masih menyempatkan diri untuk meng-upgrade kemampuan mereka, agar ada peningkatan wawasan untuk kemudian ditularkan kepada anak-anak didiknya.
Acara Launching program sendiri yang diselenggarakan pada Rabu (17/9) di Gedung Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) ITB, Alhamdulillah, berlangsung lancar. Ragam pembicara inspiratif, antara lain: Irwan Widiatmoko (pemecah rekor MURI sebagai Super Great Memory), Jamil Azzaini (Inspirator Sukses Mulia, penulis buku Best Seller ”KUBIK LEADERSHIP”, dan Ahmad Fikri (Senior Trainer Makmal – Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa), tampil memberikan pencerahan.
Wakil Gubernur Jabar, H. Yusuf Macan Efendi (Dede Yusuf) pun hadir memberikan pidato pembukaan. Ia akui, dalam sambutannya, permasalahan pendidikan di Jawa Barat begitu kompleks. Mulai persoalan infrastruktur pendidikan, penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, hingga kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya terkait permasalahan guru Bantu dan honorer.
Solusi atas permasalahan tersebut belum begitu jelas diungkapkan. Namun, ada yang menarik, ketika pak Wagub berucap tentang peningkatan proporsi dan alokasi anggaran pendidikan pada APBD Provinsi Jabar, minimal 20%. 1000 guru yang hadir sebagai peserta Launching myteacher, tentu menyimak pernyataan itu dengan seksama, sebagai sebuah janji seorang pemimpin, bukan sekedar retorika.
Sebagai Follow up program, selanjutnya akan diselenggarakan pelatihan dan proses pendampingan selama satu tahun secara bertahap yang terbagi dalam 3 angkatan. Ke depan, Dompet Dhuafa berharap program ini mendapat dukungan semua lapisan masyarakat, agar dikemudian hari program myteacher dapat menjembatani kesenjangan yang terjadi antara guru bantu, honorer, dan sukarelawan, dengan guru-guru yang sudah berstatus PNS. Sehingga, diharapkan akan muncul mutiara-mutiara terpendam, yang kelak menjelma para pendidik handal luar dalam. Bukan (lagi) ”nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah."
#hbsungkaryo

0 comments:
Post a Comment