

Di Bandung kini, Anda tentu sudah mafhum jika mall-mall seolah menjadi bangunan wajib di setiap ruang keramaian
Sampai suatu ketika, tertulis sebuah rangkaian kata mutiara sederhana, namun penuh makna, di tembok salah satu Mall di bilangan Banceuy,
“Jadikan dirimu Laksana Lebah Madu, kedatanganmu selalu dirindu. Jangan jadi lalat hijau, kehadirannya selalu bikin kacau.”
Dulu, sekitar tujuh tahun lalu, Brand Mall itu cukup ternama, Matahari Department Store. Konon, karena tak kuat bersaing di kancah pertempuran bisnis retail yang terus menjamur di
Sekian waktu vakum. Arena bisnis maksiat menjamur. Saban malam, hingar bingar house music, terdengar nyaring di Lantai 6 gedung ini. Bahkan, perjudian dengan ragam bentuknya pun tak kalah marak, mencemari kehidupan masyarakat
Adalah Haji Nuzli Arismal, alias Haji Alay, yang membuat sebuah perubahan fundamental di Mall ini. Pengusaha asli Bukittinggi, Sumatera Barat ini melihat kondisi mula bangunan yang sangat memprihatinkan. Sarang laba-laba menghias langit-langitnya. Ruang-ruang jendela sebagian retak, selebihnya tak lagi berkaca. Bahkan bau pesing sisa pembuangan air kecil yang tidak pada tempatnya, membuat suasana pengap kian kentara.
Dengan pengalaman membangun pusat grosir Blok F3 Tanah Abang,
Selain kata-kata mutiara yang tertambat di setiap sudut Mall, ada keunikan lain yang membuat Mall ini begitu berbeda tampilannya dibandingkan tempat sejenis. 99 Asma Allah menghias pilar-pilar kokoh, persis di muka Gedung Mall bernama Abdurrahman bin Auf Trade Center (ATECE) ini.
Tentu saja Haji Alay tidak begitu saja memilih nama salah seorang sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf, untuk diabadikan menjadi nama Mall baru itu. Perilaku mulia Abdurrahman bin Auf (seperti yang dikisahkan dalam banyak literatur) sebagai pengusaha ulet, yang pantang meminta belas kasih dari orang-orang di sekitarnya, menjadi inspirasi tersendiri bagi Haji Alay.
Kios-kios yang menjual aneka busana Muslim berderet rapi di lantai bawah ATECE. Ada Jilbab, mukena, sarung, dan beragam jenis sandang khusus kaum muslim/muslimah, termasuk perlengkapan Haji, menghias etalase toko.
“Di gedung ini, ratusan kios siap ditempati oleh pelbagai produk kebutuhan umat. Sekitar 80-an diantaranya sudah terisi,” tutur sosok kelahiran Bukittinggi, Sumater Barat ini, saat ditemui tim peliput Alhikmah, di sela kunjungan rutinnya ke ATECE, sepenggal waktu lalu.
Cara Haji Alay meramaikan pusat perbelanjaan baru ini pun terbilang unik Sengaja ia mengundang siapa saja yang berminat untuk mengisi kios, tanpa pungutan sesenpun. Ia berprinsip, “Anda Untung, Kami Beruntung. Yang terpenting adalah ada keinginan untuk ikhtiar membuka usaha. Nanti setelah terlihat hasilnya, baru didorong untuk bagi hasil se-ikhlasnya.”
Perkara rugi, tambah Haji Alay, namanya juga usaha. Jadikanlah itu semua sebagai pengalaman, sekaligus bahan evaluasi, mengapa sampai terjadi kerugian.
Ia membuat analogi usaha ibarat orang yang tengah belajar naik sepeda. Jika terjatuh, merasakan sakit, lalu berhenti begitu saja, maka tujuan untuk bisa mengendarai sepeda akan sirna begitu saja. Lain halnya dengan mereka yang terjatuh, namun pantang menyerah. Pada akhirnya sepeda pun akan bisa dikuasai sepenuhnya.
Cara seperti inilah yang menurut keyakinan dan pengalamannya, telah mengubah berbagai pusat perbelanjaan yang tadinya sepi, menjadi ramai kembali. Sebuah wujud nyata keberpihakan seorang Haji Alay terhadap prinsip ekonomi berkeadilan. Subhanallah!
*handono bhakti sungkaryo

0 comments:
Post a Comment