Monday, October 27, 2008

Beratap Asbes Beralas Kandang Kambing



Engkus tak pernah bermimpi akan tinggal di pondok beratap asbes beralas kandang kambing. Entih, istrinya, apalagi. Tapi, Hikmahnya kini, banyak orang datang bersilaturahim. Boleh jadi karena lokasinya yang terbilang unik dan nyaman untuk sekedar melepas penat, akibat rutinitas kota dengan sejuta kebisingan mesin industri yang sudah tampak tak terkendali. Pun keunikan komposisi rumah, yang mengundang orang datang untuk menuntaskan rasa penasaran.

Di kaki Gunung Cakra Buana, Wado, Sumedang, ada keunikan yang belum pernah ditemukan di tempat lain. Jika ditebak, sekilas bilik mungil itu tak ada bedanya dengan tempat-tempat tinggal warga lain di sekitar kawasan Kampung Sukaherang, Desa Cilengkrang, Wado, Sumedang itu. Setelah mendekat, dan memperhatikan, barulah sadar bahwa bangunan itu juga memiliki fungsi lain, sebagai tempat berteduh ternak kambing.

Setahun lalu, Engkus dan Entih beserta putra bungsunya, Suhendar, pindah ke tempat itu. Sebulan pertama kepindahan, hampir setiap malam, mata mereka nyaris sulit terpejam. Bukan karena insomnia, penyakit susah tidur akibat stress yang seringkali dialami sebagian orang kota. Tapi suara kambing mengembik, persis di bawah kamar tidur yang selalu mengiring malam-malam panjang mereka, hingga fajar menjelang. Baru setelah sebulan, suara-suara itu menjadi harmoni suasana malam yang mulai bisa dinikmati sebagai sebuah karunia pengalaman yang cukup menyenangkan.

Mengenang saat-saat pertama kepindahannya ke kediaman baru setahun lalu, Pasutri (Pasangan Suami-Istri) Engkus- Entih hanya tersenyum tipis sarat arti. Engkus tak pernah bermimpi akan tinggal di pondok beratap asbes beralas kandang kambing. Entih, istrinya, apalagi. Tapi, Hikmahnya kini, banyak orang datang bersilaturahim. Boleh jadi karena lokasinya yang terbilang unik dan nyaman untuk sekedar melepas penat, akibat rutinitas kota dengan sejuta kebisingan mesin industri yang sudah tampak tak terkendali. Pun keunikan komposisi rumah, yang mengundang orang datang untuk menuntaskan rasa penasaran.

Engkus sendiri adalah salah seorang anggota mitra kelompok pemberdayaan Ternakita Dompet Dhuafa Bandung di kawasan itu. Ada sekitar 50 ekor kambing yang menjadi tanggungjawab Engkus untuk dipelihara. Sebagian diantaranya adalah Amanah program Ternakita.

Selain mencari pakan untuk hewan piaraannya, saban pagi dan siang, rutinitas Engkus menyadap nira di pohon Kawung milik seorang juragan. Letaknya tak seberapa jauh ke arah Selatan dari tempat ia tinggal. Pagi hari, jam 6 pagi, Engkus sudah siap dengan sebatang Lodong (bambu panjang ukuran 1,75 meter), tempat penampungan Nira cair yang disebut Lahang.

Dari Lahang, tugas sang istri, Entih, mendidihkan hingga kental sampai berwarna tua kecoklatan. Saban pagi, Entih sudah duduk menghadap tungku yang nyala memijar jingga. Asap putih pekat mengepul dari wajan besar berisi nira cair di atasnya. Seterusnya, lalu dimasukkan ke dalam cetakan sederhana yang juga terbuat dari lingkaran bambu setebal 5 cm (gandu) berdiameter 10 dan 15 cm. Jadilah kemudian apa yang lazim dikenal sebagai gula kawung/ aren, sebagai bahan pemanis makanan dan minuman yang menyehatkan.

Jika tengah beruntung, sehari 25 gandu besar (diameter 15) dan kecil (diameter 10) bisa dihasilkan dari 2 batang lodong penuh lahang. Segandu besar jika dijual ke pedagang pasar seharga Rp 1300, dan gandu kecil Rp 600. Dari situ, Engkus sekeluarga mendapatkan tambahan untuk nafkah harian keluarg, selain dari buruh serabutan menggarap kebun milik orang.

Menjelang musim kurban seperti saat ini, harapan Engkus membuncah. Buah keringat memelihara kambing dan domba, akan segera dituai. Hewan ternak yang sudah menjadi teman setia sekian lama akan segera dikurbankan, untuk dinikmati sebagai santapan langka warga-warga sekitar desanya, Cilengkrang.

Namun, Engkus sekeluarga tak perlu risau. Program pemberdayaan Ternakita Dompet Dhuafa Bandung, insya Allah tidak hanya berhenti sampai di sini. Usai kurban, Kambing dan domba lain akan segera menyusul, mengisi pondok bambu itu, dan lalu mengembik menemani kembali hari-hari Engkus sekeluarga yang sempat sepi.

0 comments: