Friday, December 26, 2008

Menembus Kabut Cupunagara















Dari Kota Subang, tengoklah arah Selatan. Tampak hamparan lanskap hijau pegunungan, salah satunya Gunung
Bukit Tinggal. Di sana, sebuah desa, Cupunagara, tengah menanti perhelatan Kurban yang langka terjadi.


Sesaat setelah Adzan Maghrib berkumandang, Tim monitoring Tebar Hewan Kurban (THK) DD-Bandung, tiba di Sagalaherang, Subang. Salah satu sentra program pemberdayaan peternakan domba DD-Bandung, Ternakita, Minggu (7/12).

Dahi Ustadz Miftah, ketua Kelompok Ternakita Sagalaherang berkernyit rapat. Ia tampak cemas melihat kami baru tiba saat terang sudah berganti gelap. “Cenah rek rada beurang, jam sakieu naha kakarek datang? (Katanya mau agak siang, jam segini kok baru datang?)” tutur Miftah, menegang.

Kami memang terlambat. Targetnya sebelum gelap, tim sudah menuju Desa Cupunagara, sekitar 20 km sebelah Selatan Subang kota. Artinya, maksimal jam 2 siang, tim sudah bertolak dari Bandung. Namun, ada beberapa hal di luar prediksi, yang memaksa tim untuk menunda perjalanan. Terlambatnya jadwal kedatangan kendaraan yang akan digunakan, dan hujan lebat yang mengguyur Bandung, beberapa saat menjelang keberangkatan.

Wajar saja jika Ustadz Miftah tegang. Jalanan menuju lokasi bukan seperti di perkotaan yang terang benderang. Tim harus menembus lebatnya belantara sebelum menjejak tujuan.

Tapi, sudahlah. Waktu tentu tak mungkin ditarik mundur. Tim harus tetap berangkat, meski gelap menyergap. Dari Sagalaherang, rombongan mengendarai 2 mobil. Sebuah Suzuki APV warna hitam, khusus kami, tim monitoring THK DD-Bandung. Satu lagi mobil Pickup, mengangkut 20 ekor domba yang akan disembelih keesokan harinya.

Setengah jam berlalu, tim mulai memasuki kawasan hutan Pasir Bedil. Konon menurut masyarakat sekitar, hutan itu merupakan salah satu tempat pembuangan mayat preman-preman bertato, yang dilakukan oleh aparat rezim Orde Baru sekian waktu silam.

Selain lokasi yang cukup terpencil dari perkotaan, kondisi hutannya pun masih cukup lebat. Mitos itu cukup terpelihara, sehingga jarang sekali ada kendaraan, apalagi pejalan kaki yang sengaja lewat jika fajar sudah tenggelam.

Tiba-tiba, saat sedang asyik berkisah, mobil yang kami tumpangi sedikit oleng ke sebelah kiri. “Ban bocor …. Ban bocor,” teriak Asep Irawan, koordinator tim monitoring. Redy, anggota tim, pemegang kemudi, spontan menghentikan laju kendaraan. Di depan, pedal rem mobil Pick-up pengangkut domba pun ikut diinjak.

Ban kiri belakang mobil APV bukan lagi bocor, tapi gembos. Posisi velg nyaris bersentuhan langsung dengan aspal jalan. Sedikit terhalang oleh lapisan pertama ban dalam dan ban luar yang sudah tanpa udara.

Celakanya, ban cadangan pun setelah dikeluarkan dari tempat penyimpanan, dalam kondisi serupa. Diakui oleh Asep, Pemberangkatan tadi memang terlalu terburu-buru. “Hingga hal vital semisal pengecekan ban pun terlupakan,” ungkapnya. Lengkap sudah keterlambatan tim dari waktu yang telah dijadwalkan.

Jarum jam yang meligkar di pergelangan tangan menunjuk angka 21.30. Masih sekitar 15 km jarak yang harus ditempuh. Sembari berpikir solusi ihwal ban, tim sepakat bahwa pick-up tak usah ikut-ikutan berhenti, agar domba-domba tadi bisa segera tiba di lokasi.

Pick-up pun melesat menuju Cupunagara. Yang tersisa tinggal kami berlima; Asep (Ketua tim), Redy, Wawo, Adi dan Jujun. Sepotong cahaya rembulan dan suara khas ragam binatang malam, menemani kami di tengah belantara Pasir Bedil. Sayup-sayup dari kejauhan, bunyi takbir malam Idul Adha terdengar tipis mengalun, memberi kami suntikan spirit, “ada amanah yang harus segera ditunaikan!”

Tak lama kemudian, sebuah truk meluncur dari arah berlawanan. Karena posisi mobil kami yang berada di tengah jalan, praktis, truk itu tak bisa lewat begitu saja. Mobil pun harus segera pindah posisi.

Mengetahui keadaan kami yang sedang memerlukan pertolongan, Rojes, sang pengemudi truk yang kebetulan asli penduduk setempat memberitahu tukang tambal ban terdekat. “kirang langkung 4 kilo-an tidieu, mah. Tos weh aya nu ngiring ka truk abdi ka handap, engke tinggal milari (Sekitar 4 km dari sini. Ikut truk saya saja sampai bawah, nanti tinggal mencari).“

“Alhamdulillahirabbil’alamiin, pertolongan Allah datang,” bisik kami, dalam hati.

Butuh waktu sekitar 3 Jam hingga mobil bisa kembali meluncur normal. Mulai turun dari truk tumpangan di Jl Raya Subang- Sumedang, hingga menemukan sebuah kios tambal ban yang sudah tertutup rapat. Beruntung, Karman, pemilik kios, masih mau menolong kami menyisihkan waktunya untuk melayani kami.

***

Di hutan Pasir Bedil, tim monitoring tampak tersenyum menyambut kedatangan kami. Suasana tak lagi begitu angker, karena beberapa orang panitia lokal Desa Cupunagara sudah datang menemani.

Sekitar jam 00.30-an, setelah ban terpasang, rombongan bersegera melanjutkan perjalanan. 15 km jarak yang tersisa kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Cukup lambat, mengingat jalanan yang memang bukan semulus aspal jalan perkotaan.

Dini hari 02.00, Setiba di Desa Cupunagara, koordinasi dengan panitia lokal segera berjalan. Kampung Buni Kasih, sekitar 1 jam berjalan kaki kea rah Timur dari balai Desa Cupunagara, menjadi target penyembeihan hari pertama. Sengaja Buni Kasih dipilih, karena kondisi masyarakatnya yang belum pernah sekalipun tersentuh Syi’ar Kurban dari sesama. Listrik PLN yang belummengalir, plus akses jalan yang cukup sulit dijangkau kendaraan, menjadi factor utama penghambat interaksi penduduk Buni Kasih dengan dunia luar.

Hanya 1,5 Jam mata kami bisa terpejam. Mulai Jam 3 dini hari hingga Adzan subuh berkumandang. Tentu saja memang musti sepagi itu, karena tim harus segera bersiap-siap berangkat untuk mengejar penyembelihan di Kampung Buni kasih.

***

Di Timur, jam 05.00, jingga mentari baru muncul kemilaunya. Kabut halus Cupunagara masih menyentuh daratan. Di jalan, Mitsubishi Colt Pickup biru jadul (jaman dulu) sudah menanti. 20 ekor domba sudah tampak terikat di bak belakangnya,. Oom, panitia lokal mitra THK Cupunagara memang menyarankan kami untuk menggunakan mobil sampai ujung jalan yang tak bisa dilewati kendaraan. “Setelahnya, ya jalan kaki sambil nuntun domba,” kata dia.

Mobil pun mulai melaju. Jalan bebatuan membuat tim yang bergabung menjaga domba di bak belakang bergoyang ke kanan, kadang kiri. Sesekali jika tengah menanjak curam, domba yang terikat pun ikut-ikutan bergeser ke belakang. Praktis, tenaga para penjaga domba cukup terkuras dibuatnya.

20 Menit setelah melewati hamparan hijau perkebunan teh PTPN VIII, tim tiba di ujung jalan yang tak bisa lagi dilalui mobil itu. Kami berlima dan 3 orang panitia lokal kemudian meneruskan perjalanan ke Buni Kasih yang masih harus ditempuh sekitar 45 menit, sembari menggiring 20 ekor domba tadi.

Luar biasa, jalanan becek menanjak selebar gang harus kami lalui. Belum lagi sungai-sungai kecil yang membelah gunung bernama Bukit Tanggul itu, juga harus terlewati. Sempat, sebuah hamparan padang rumput hijau menghentikan laju perjalanan kami. Rupanya, para domba tak kuasa menahan godaan rerumputan hijau yang tampak begitu segar.

Sejenak rehat, perjalanan berlanjut. Di depan sudah tampak rumah-rumah panggung berderet rapi. Usai sholat Idul Adha, masyarakat begitu antusias menyambut kami.

Eem, seorang warga Buni Kasih, mengaku tak pernah membayangkan akan ada penyembelihan hewan kurban di sini. “Tong boro Kurban, Cep, kangge tuang sadidinten wae, teu aya (Jangankan untuk Kurban, buat makan sehari-hari pun pas-pasan),” kata Eem dengan logat sunda ‘medhok’.

Eem berterus terang, bahwa sebelum tim THK datang, belum pernah sekalipun terjadi penyembelihan hewan kurban sepanjang sejarah pendirian Buni kasih berpuluh tahun silam. Jadi, untuk kali pertama Syi’ar Kurban hadir di kampung yang belum sempat menikmati listrik ini.

***

Agenda tim monitoring Kurban 1429 H ini masih panjang. Dari Buni kasih, masih ada 2 Kampung lagi yang menjadi titik penyembelihan di Desa Cupunagara, Kampung Wangun dan Kampung Cupunagara.

Esoknya, hari pertama tasyrik, wilayah Kecamatan Pakenjeng dan Desa Ciroyom, Cikelet, Garut Selatan, menjadi target titik penyembelihan. Keduanya terkategori daerah minus, karena kondisi alam dan sosial masyarakatnya. Hingga finish di wilayah Logodor, Ciamis, Sebuah wilayah yang sempat luluh lantak akibat tsunami pantai Selatan sepenggal waktu silam.

Khusus di Jawa Barat, tim monitoring kurban seperti halnya kami, tersebar di 120 titik distribusi di 17 Kabupaten yang ada, untuk menebarkan 1695 ekor hewan kurban setara Kambing, buah kepedulian para pekurban sekalian. Di lingkup nasional, total perolehan THK mencapai 16 ribu ekor lebih.

Patut disyukuri, di tengah gelombang PHK Massal akibat krisis ekonomi global belum lama yang dampaknya pun terasa di negeri ini, kepedulian terus mengalir. Mewakili suara masyarakat penerima manfaat dari berbagai wilayah distribusi hewan kurban, Dompet Dhuafa mengucapkan Jazakumullah Khair. Semoga Allah menerima amal Ibadah kita semua. Pun kurban yang Insya Allah, telah menebarkan syi’ar ajaran Allah ke banyak saudara sesama yang belum seberuntung kita. Amiin.

#Ibnatynaifa

0 comments: