Wednesday, November 26, 2008

Robohnya Rumah Kami




Di luar, warga yang panik, terus berhamburan ke luar rumah, sembari berucap takbir, Allahu Akbar. Jalanan yang hanya berupa sambungan pematang sawah, sebagian sudah terbelah, bahkan anjlok, akibat pergerakan bumi.

Jum’at, 14 November 2008, jarum jam di angka 23.00. Haul Almarhumin para sesepuh Sukabungah di Mesjid Jami Al-Ikhlas, Kampung Kubang, Desa Sukabungah, Kecamatan Campaka Mulya, Cianjur Selatan, terpaksa diakhiri. Ratusan orang yang berkumpul di tempat diselenggarakannya Haul tersebut, bubar dengan hati berdebar. Gempa ringan, yang dalam istilah setempat disebut lini, mulai terasa menggoyang.

Warga siaga, tapi belum beranjak dari kediaman masing-masing. Mereka masih berharap, tanda alam itu hanya selintas angin lalu, yang datang lalu pergi tanpa merusak.

Abdurrahman, seorang warga, baru saja menjejakkan kaki ke dalam rumah sepulang menghadiri haul di tempat tadi. Diraihnya golok yang masih tersemat di pinggang, lalu ia gantungkan di tempat biasa, dinding bilik ruang tengah. Mulutnya komat-kamit, berdzikir sambil berpikir kemana ia harus pergi jika kemungkinan terburuk yang tak diharapkan terjadi.

Jum’at malam berganti Sabtu dini hari. Sebagian warga sudah mengevakuasi keluarga masing-masing ke kampung tetangga yang dianggap lebih aman. Di kediamannya, Abdurrahman masih bertahan. Tak lama berselang, bumi tempatnya berpijak terus bergoyang. Golok yang sebelumnya tegak lurus menggantung, sudah tampak miring, tergeser.

Di luar, warga yang panik, terus berhamburan ke luar rumah, sembari berucap takbir, Allahu Akbar. Jalanan yang hanya berupa sambungan pematang sawah, sebagian sudah terbelah, bahkan anjlok, akibat pergerakan bumi. Alternatif jalan, melalui areal pesawahan, dengan resiko merusak padi yang baru saja disemai.

Abdurrahman yang tadinya bertahan, pun bergegas keluar menyelamatkan diri, bergabung dengan warga lain menuju Kampung Jambudipa, sebelah utara lokasi yang dianggap cukup aman.

Di sana, tempat pengungsian sementara, warga terlihat pasrah. Bruk … krkkk ..krrkkk … bruk… Di tengah gulita langit Sukabungah, terdengar bunyi gemeretak bangunan yang terbelah, lalu ambruk.

Dalam hati mereka bertanya, “mungkinkah rumah kita kini sudah menjadi puing, rata dengan tanah?” Dan pertanyaan itu tentu belum terjawab, karena tak satupun warga berani mendekat di Sabtu dini hari kala itu, yang masih berselimut gelap.

Paginya, barulah mereka bisa menyaksikan langsung kondisi rumahnya, setelah semalaman dihinggapi rasa penasaran.

Benar saja, rumah mereka tinggal puing tersisa. Kerusakan paling parah ada di 3 kampung di desa itu, yakni: Kampung Kumendong, Kampung Kubang, dan Kampung Jeruk Honje. Total 98 Rumah Rusak Berat, termasuk 2 Mesjid Jami (Almukarromah dan Al-Ikhlas). Sementara itu, 37 rumah radius 500 m dari lokasi, terancam mengalami hal serupa, akibat pergeseran tanah yang masih terus berlangsung.

Aksi tim Dompet Dhuafa Rescue

Sabtu Sore menjelang malam (15/11), tim gabungan Aksi kebencanaan Dompet Dhuafa yang terdiri dari tim Indonesia Care Connection (ICC) dan tim Dompet Dhuafa Rescue berangkat menuju lokasi bencana.

Awalnya, tim akan bergerak menuju lokasi bencana Nyalindung Desa Girimukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, yang memakan 13 korban jiwa. Namun, dalam perjalanan menuju lokasi, sumber terpercaya tim Dompet Dhuafa mengatakan, ada wilayah berjarak sekitar 30 km di sebelah Selatan Nyalindung yang juga didera bencana longsor akibat tanah retak, namun belum tersentuh bantuan. Tepatnya di Desa Sukabungah, Kecamatan Campaka Mulya. Di Nyalindung sendiri, bantuan dari berbagai lembaga kemanusiaan, termasuk partai politik sudah membanjiri posko-posko bantuan di lokasi.

Tim Gabungan Aksi Kebencanaan Dompet Dhuafa yang dikomandani Iman Surahman, bergegas mengambil keputusan. Bantuan dianggap akan lebih efektif masuk ke wilayah yang memang sama sekali belum tersentuh. Terlebih dari informasi yang didapat, selain puluhan rumah yang rusak berat, puluhan bangunan tempat tinggal lainnya pun terancam ikut ambruk. Praktis, ratusan jiwa warga setempat pun beresiko hilang, jika tidak ada tim aksi yang bisa mengkoordinir situasi dan kondisi kegawatdaruratan seperti yang terjadi.

Bismillah, kami pun beranjak pergi. Hujan yang turun cukup lebat, sedikit mengganggu perjalanan tim, menuju lokasi. Belum lagi akses jalan yang sempit minus penerangan, di kanan-kiri jalan.

Jam 24.00, tim masih terus menyusuri jalanan yang lengang menuju lokasi. Camat Campaka, M. Yayan Rohyanda, yang tidak sengaja bertemu dalam perjalanan menuju lokasi mengatakan, “cukup riskan jika memaksakan harus ditempuh dalam kondisi hujan, dan penerangan yang minim seperti ini. Jika berkenan, silahkan mampir di kediaman saya untuk rehat sejenak. Besok pagi baru lanjutkan perjalanan.”

Minggu Pagi (16/11), setelah menerima tawaran pak Camat Campaka untuk bermalam di kediamannya, tim kembali bergerak. Sekitar 45 Menit berlalu, kami tiba di kantor kecamatan Campaka Mulya, setelah melewati area perkebunan teh, Sukanagara.

Camat setempat, Yadi khaenuryadin, menyambut tim dengan sedikit tersipu. Rupanya, pak Camat baru akan beranjak meninjau lokasi. Itu pun saat mengetahui informasi dari Camat Campaka yang menghubungi dia via ponsel pagi tadi, bahwa 3 Kampung di wilayahnya juga terdera bencana longsor, dan tim Aksi kebencanaan Dompet Dhuafa sedang bergerak menuju lokasi.

Cukup sampai jembatan sungai Cisokan, jalanan bisa dilalui kendaraan roda empat. Selebihnya, jalanan menuju ke Kampung Bencana, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, atau menggunakan jasa ojek.

Sekitar jam 8 pagi, kami tiba di lokasi. Meski tidak ada korban jiwa, kondisi sungguh memprihatinkan. Puing-puing bangunan berserakan. Tampak terlihat, warga masyarakat yang mengais barang-barang berharga yag masih bisa diselamatkan. Masih ada sekitar 37 buah rumah tinggal yang sewaktu-waktu bisa ambruk. Dompet Dhuafa, sebagai Lembaga kemanusiaan pertama yang datang ke lokasi, bersinergi dengan warga membentuk posko kegawatdaruratan di salah satu Madrasah Ibtidaiyah wilayah setempat. Bantuan logistik, semisal selimut, sarung, mie instant, dan obat-obatan terkonsentrasi di posko ini. Selain itu, posko penampungan barang, dan pemantauan perkembangan skala kebencanaan juga diinisiasi dan dibentuk oleh tim, tak jauh dari lokasi bencana. Sore harinya, tim medis dari Mercy, beserta belasan relawan dari Gerakan Reformis Islam (GARIS) masuk ke lokasi, bergabung bersama kami.

Melihat kondisi lokasi yang sangat rawan, solusi terbaik yang paling memungkinkan paska kegawatdaruratan adalah relokasi. Sementara, untuk membangkitkan motivasi warga masyarakat korban bencana, tim Dompet Dhuafa menyelenggarakan acara do’a bersama di tenda darurat yang sengaja didirikan. Khusus untuk para siswa-siswi setempat digagas program sekolah ceria Dompet dhuafa, yang juga bertujuan untuk mengisi hari anak-anak korban dengan berbagai kegiatan positif.

Setiap hari, hujan masih berlanjut mengguyur Desa Sukabungah. Perasaan warga sekitar masih terus diliputi was-was. Sebagian korban tinggal di posko MI, selebihnya menumpang di rumah kerabat terdekat.

Sampai tulisan ini dibuat, Minggu (23/11), tim Aksi kebencanaan Dompet Dhuafa masih standby di lokasi. Musim penghujan yang baru saja mulai, masih membuka peluang hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun, warga berharap, bencana tidak lagi berulang, dan solusi relokasi segera dapat terealisasi.

#hbsungkaryo

0 comments: