Wednesday, November 26, 2008

Otang dan Firasat Banjir Bandang


Otang sudah terbiasa dengan banjir yang datang di kala musim hujan tiba. Namun, warga Kampung Ati Rompe, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung ini tak menyangka, banjir kali ini lebih dahsyat, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kamis, (13/11) Otang sedikit gusar. Perasaan tak tenang menghinggapi buruh salah satu pabrik tenun di Majalaya ini, siang hari jelang waktu kerja. Padahal, langit Majalaya terlihat cerah-cerah saja, tak nampak tanda bakal turun hujan.

Baru beranjak beberapa langkah dari rumah kontrakannya di Ati Rompe, tatapnya tertuju ke arah Selatan Majalaya. Mendung tebal tampak bergelayut di sana, daerah sekitar Pangalengan.

Ia pun urung pergi. Firasatnya mengatakan, di wilayah pangalengan sedang diguyur hujan lebat. Dan seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, jika di sana (Selatan Majalaya) turun hujan lebat, hampir pasti dampaknya akan juga terasa di kawasan industri tekstil ini, meski tidak setetespun hujan turun. hal ini dikarenakan, aliran sungai citarum hulu di sana, juga melewati wilayah Majalaya.

Benar saja firasat Otang. Beberapa jam kemudian, menjelang Magrib, debit air sungai citarum yang terletak hanya beberapa puluh meter dari kediamannya mulai meluap. Otang pun bergegas mengemasi barang-barang seadanya, semisal kasur dan pakaian, untuk diamankan di langit-langit kamar kontrakan dia. Sementara itu, istri dan 3 anaknya, diungsikan ke rumah mertua, yang ia anggap lebih aman.

Di luar perkiraan, hanya dalam waktu kurang dari dua jam, di gang-gang sempit Ati Rompe, posisi air sudah setinggi dada orang dewasa.

Warga sekitar, termasuk Otang cukup panik dibuatnya. Banjir kali ini tak seperti yang sudah-sudah. Aliran air bercampur lumpur begitu cepat menderas masuk ke ruang-ruang yang ada.

Warga yang tak sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, terpaksa menyempil diantara langit-langit atap rumah masing-masing. Begitupun Otang, yang juga terlanjur terjebak, lalu bertahan di langit-langit kamar kontrakannya. Mereka hanya bisa pasrah, jika debit air terus bertambah, dan lalu menenggelamkan atap rumah.

Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi. Jam 2 dini hari air berangsur surut. Hanya Lumpur yang tersisa, menumpuk sekitar 15-20 cm di jalanan Ati Rompe, dan sebagian rumah penduduk.

Hingga Sabtu pagi (15/11) saat tim Dompet Dhuafa (DD) Rescue tiba di lokasi, Otang dan warga sekitar masih sibuk membersihkan sisa-sisa banjir Bandang. Bantuan logistik ala kadarnya, suplai dari dapur umum yang didirikan tim DD Rescue beserta tim relawan Alamy di Mesjid Al-Hidayah, Solokanjeruk, dibagikan kepada ratusan KK korban bencana banjir bandang.

Otang dan warga Majalaya lainnya memang sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Lelah sudah pasti, karena tak ada lagi pilihan selain bersabar. Sebersit harapan terucap dari bibir mereka, agar ke depan hal ini bisa lebih diantisipasi oleh aparat terkait. Mungkinkah?

#rehranumurti

0 comments: