Sunday, October 26, 2008

Jelang Kurban 1429 H

Toto Purwanto, ketua DKM Mesjid Kampung Ciguha, Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya, terlihat tegang. Nadanya sedikit meninggi saat menemui kami, tim survei studi kelayakan daerah distribusi hewan kurban di rumah Eros, salah seorang penduduk di kampung tersebut.

Punten, aya naon ieu, teh, meni asa rareuwas kadongkapan tamu jauh (Ma’af, ada apa, ya. Kok saya merasa kaget kedatangan tamu jauh)?

Wajar saja Toto berlaku seperti itu. Beragam prasangka campur aduk di benaknya. Mungkinkah ini aparat pemerintah yang akan melakukan sensor materi khutbah Jum’at, seperti yang pernah dilakukan oleh rezim represif terdahulu? Atau para opportunis yang ingin memanfaatkan kepolosan masyarakat kampungnya yang miskin terpencil, karena lokasinya yang berjarak sekitar 100 KM arah Selatan kota Tasikmalaya.

Rupanya ia merasa trauma dengan kedatangan orang asing ke kampungya, dengan beragam iming-iming mendapatkan bantuan ini-itu. Malahan, kata dia, 2 tahun terakhir ada orang yang sengaja datang mengatasnamakan institusi tertentu, untuk melakukan pungutan dengan berbagai dalih.

Di salah satu desa di Kabupaten Karawang lain lagi. Mereka menolak tawaran tim survei THK untuk mendistribusikan Kambing/Domba kurban di wilayah tersebut tanpa alasan yang jelas. Yang membuat tergelitik adalah pernyataan salah seorang warganya yang mengatakan bahwa jika hewan kurbannya berupa sapi, maka mereka akan menerima.

Pada umumnya, masyarakat di wilayah-wilayah minus yang menjadi tempat persinggahan tim survei, relatif bisa diajak kerjasama. Tentunya setelah mendapat penjelasan tentang siapa itu Dompet Dhuafa? Apa itu program Tebar Hewan Kurban? dan hal ihwal kelembagaan lainnya.

Di Cikelet, misalnya. Desa yang terletak di pelosok Garut Selatan (Gasela) ini tahun lalu menyambut gembira kunjungan tim survei THK - DD Bandung. Apalagi setelah terbukti bahwa memang benar terjadi prosesi penyembelihan dn pendistribusian di wilayah tersebut.

Survei pra wilayah distribusi hewan Kurban, menjadi salah faktor kunci penentu keberhasilan eksistensi program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa yang telah berlangsung selama kurun waktu 15 tahun.

Tahun lalu, khusus di Jawa Barat, Tebar Hewan Kurban (THK) DD Bandung menjangkau hampir 17 Kabupaten yang ada. Tahun ini, perluasan wilayah distribusi, dari sisi pra-syarat tempat: minus, miskin terpencil, rawan pangan, wilayah konflik dan pengungsian, masih menjadi skala prioritas.

Dari 17 Kabupaten kota yang ada di Jawa Barat, baru 9 Kabupaten yang masuk ke wilayah Mitra Pemberdayaan Peternak Domba/ Kambing. 9 wilayah mitra tadi ditunjuk menjadi daerah penyangga pengadaan Hewan Kurban, yang akan mengcover sisa wilayah yang belum tersentuh program pemberdayaan peternak tadi.

Mitra Pemberdayaan Ternakita di Subang, misalnya. Mereka menjadi penopang pengadaan Hewan Kurban wilayah Pantai Utara. Di Wado, Sumedang, menopang pengadaan di wilayah terdekat semisal Garut, dan Tasikmalaya.

Data hasil survei wilayah distribusi yang sudah terkumpul, kemudian diproses dalam tim. Setelah memenuhi pra-syarat, lalu kemudian para key person (penanggugjawab) masing-masing wilayah diundang untuk mengikuti Training Calon Mitra (TCM) di tempat yang ditentukan oleh Dompet Dhuafa. Fase training dilakukan untuk memberikan arahan tentang tata tertib prosesi Tebar Hewan Kurban itu sendiri. Mulai dari tata cara penyembelihan yang syar’i, mekanisme distribusi, proses dokumentasi untuk pelaporan, sampai penandatanganan perjanjian kerjasama kemitraan dengan perwakilan panitia lokal masing-masing wilayah.

Hasilnya, laporan pertanggungjawaban tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa berupa dokumentasi foto pra & pasca penyembelihan lengkap dengan identitas pekurban dan wilayah distribusi, dan secarik kertas ucapan terima kasih dari masyarakat miskin terpencil, rawan pangan, wilayah konflik dan pengungsian, penerima manfaat kurban Anda sekalian. Itu semua dikirim, tak lama usai prosesi penyembelihan.


0 comments: