
Apa yang kita rasakan saat tengah dililit susah, lalu handai taulan, termasuk orang sekitar, tak acuh? Mungkin ada yang fatalis. Pasrah menyerahkan segalanya kepada yang Maha Berkehendak, tanpa ikhtiar mencari celah. Masih mendingan ketimbang yang nekad mengakhiri hidup sebelum waktunya.
Coba renungkan kira-kira segembira apa kita, jika situasi berada sebaliknya? Perhatian dengan ragam bentuk menderas, datang , memecah kebuntuan hari yang nyaris gelap seperti tak ada jalan. Ada yang berupa nasihat/ saran, semisal tausyah Ustadz yang bisa menenangkan. “Jika permasalahan yang dihadapi seputar pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, coba saja datang ke Dompet Dhuafa Bandung.” Itu sebuah pemisalan. Ada pula yang berwujud lembaran rupiah, dollar, bahkan euro, untuk menutup hutang. Jika ada sisa, bisa menambah modal jualan atau usaha apa kek, untuk menyambung napas kehidupan.
Adakah sebersit ingin di hati kita untuk suatu hari bisa memberi, seperti apa yang dilakukan orang-orang untuk diri kita pada perumpamaan tadi?
Lalu rasakan kehangatan jiwa, ketika tangan-tangan ini ringan mengulur pada siapapun yang mampu dan layak kita tolong. Pengemis, kah, yang kerap dipersepsikan orang malas, tak mau bekerja. Anak jalanan, kah, yang juga sering beroleh umpatan sengit sebagai pengganggu pemandangan kota. Atau malah tetangga kita yang nampak sumringah, bingung ketika lebaran nyaris datang, dan tak ada seikat ketupat pun yang bisa dijadikan sarapan.
Coba ingat lagi, ketika air di mata nyaris kering tak bersisa, saat memohon pada Sang Pencipta agar segera mencabut berbagai permasalahan hidup yang tengah dihadapi. Renungkan, betapa getir hati mereka yang terpaksa menengadah tangan, sekedar sekian rupiah untuk menyambung hari, agar bisa terus menapak jejak langkah di dunia. Mungkin saudara, tetangga, sahabat, atau bahkan diri kita pernah mengalaminya. Mari kita membuka diri untuk jujur menjawab, bahwa Memberi ≠ (tidak sama dengan) Menerima.
Rabbana, karena semata pemberian Engkau-lah kami (manusia) ada. Di antara pemberian-Mu yang tak terhingga, kami ingin menyelip do'a, “yaa Kariim, karuniakan kepada kami keleluasaan untuk dapat selalu memberi yang terbaik kepada siapapun sesama kami yang membutuhkan.” Amiin.

0 comments:
Post a Comment