Menjejak Bandung tempo dulu, Amar masih belia. Waktu itu 1975. Ia baru saja lulus dari sekolah dasar di Garut
Selasa siang, denyut aktivitas perekonomian di bilangan ABC,
Di satu sudut trotoar, masih di jalan itu, bibir Amar Rasiman, seorang pedagang kacamata pinggir jalan mitra Dompet Dhuafa Bandung, tersenyum tipis. Wajar saja, di siang yang sudah nyaris sore, belum ada satupun kacamata yang laku terjual. Padahal di rumah, istri dan ketujuh anaknya tengah menanti penuh harap.
Tapi, sudahlah. Bukan sekali dua, hal tadi ia alami. Amar mencoba bersabar menanti rizki, sembari sesekali me-lap lensa-lensa kacamata dagangannya, agar tampak bening selalu saat dipajang di etalase.
Menjejak Bandung tempo dulu, Amar masih belia. Waktu itu 1975. Ia baru saja lulus dari sekolah dasar di Garut
Tujuannya Situ Aksan. Di
Setahun bertahan, Amar coba mengadu nasib jadi pedagang asongan. Area jelajahnya di jalan-jalan seputaran alun-alun
Satu waktu, di bilangan Alkateri, Amar tampak serius melihat ragam lukisan berpigura karya seniman jalanan yang dipajang di pinggiran trotoar. Bukan karena ingin jadi pelukis, bukan pula ingin jadi model lukisan. Amar tertarik pada pigura-pigura kayu yang ternyata juga sengaja dibuat oleh tukang-tukang di situ, salah satunya untuk memperindah kemasan lukisan.
Seorang penjual pigura, yang sering melihat Amar berkunjung ke tempat itu, lalu mengajak dia untuk bergabung, membantu. Amar pun tak menolak, karena baginya ini kesempatan berharga yang tak boleh dilewatkan begitu saja.
Dalam waktu kurang dari setahun, Amar sudah ahli membuat pigura. Ia memang tekun mencuri kesempatan untuk belajar teknik pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar kayu itu. Tak heran, Amar kemudian bisa mandiri, menerima pesanan sendiri.
Dari hasil penjualan pigura, Amar lalu memberanikan diri mempersunting Rodiah, mojang priangan, kenalan dia asal Situ Aksan. Saat menikah tahun 1986, Amar berusia 24 tahun. Terpaut 10 angka dari umur istrinya yang baru menginjak tahun ke-14.
Memasuki lembar baru kehidupan Rumah Tangga, memompa spirit Amar untuk terus maju berusaha. Order piguranya kian hari terus bertambah, seiring kelahiran satu per satu putra-putri dia dari rahim istri tercinta.
Seiring waktu berjalan, lambat laun pemain baru di dunia pigura bermunculan bak jamur di musim penghujan. Dari semula hanya 2-3 penjual pigura di Jalan ABC, menjadi berpuluh orang mengadu nasib di lahan yang sama. Tentu saja hal ini berpengaruh terhadap usaha Amar. Hingga kemudian, tahun 2000-an, ia terpaksa harus gulung tikar. Padahal anak sudah ada
Amar berpikir keras, mencari usaha yang bisa dijalani untuk nafkah keluarga. Alhamdulillah, seorang kawan, karyawan toko elektronik kenalan dia dulu saat mangkal sebagai tukang pigura menawari Amar pekerjaan. Waktu itu lagi musim-musimnya video cd. Amar diminta ikut memasarkan kaset-kaset format VCD di sekitar Jalan ABC. Hasilnya lumayan, bisa cukup untuk makan anak-istri.
Tapi, lagi-lagi itu tak berlangsung lama. Perubahan teknologi yang begitu cepat di dunia elektronik, membuat vcd tak lagi terlalu laku dijual.
Amar tak patah arang. Ia lalu banting setir, menjaja kacamata. Idenya dari hasil obrolan warung kopi dengan penjual lain, masih di sekitar jalan ABC. Prediksinya, selain tempat yang tidak harus lebar di pinggir trotoar, keuntungan penjualan per-kacamata pun relatif besar. Amar memisalkan, pemesanan kacamata plus lensa. Keuntungannya bisa sampai 25 ribu per-transaksi.
Jika tengah ramai pembeli, satu hari Amar bisa membawa pulang 200-300 ribu rupiah ke rumah kontrakan dia di Kp. Blok Ager RT 01/11 Babakan Ciparay, Bandung. Sebaliknya, jika sepi, bisa 3-4 hari tak ada satupun transaksi. Buah hatinya kini yang sudah bertambah 2, tentu harus dipikirkan kelangsungan hidupnya.
Namun, ia sadar, dalam hidup pasti ada pasang surut. Amanah Allah, Istri dan 7 buah hatinya tak membuat Amar gentar menjalani roda kehidupan. Yang terpenting bagi dia adalah ikhtiar dan do’a tak kenal henti, menjemput rizki yang sudah pasti ada di setiap jiwa-jiwa ciptaan-Nya.

0 comments:
Post a Comment