Tak terlalu lebar tempat dia mangkal. Persis di pinggir Gg. Safe’i Jl. Kebon Kopi, saban sore, jam 4-an ba’da Ashar, Mas Roso sudah standby. Kadang jika segalanya sudah siap, mas Roso dan gerobak Baksonya bisa tiba lebih awal.
Tingtingtingtingting…ting … tek..tuk..tek..tuk… Tingtingtingtingitng…ting … tek..tuk..tek..tuk, mas Roso memukul-mukul ujung sendok ke badan mangkuk. Begitu cara dia memberi sinyal ke pelanggan sekitar. Tanda khas Ayah empat anak ini memanggil siapapun yang ingin melengkapi sore dengan hidangan khas dia, Bakso Mas Roso.
Ndak begitu mahal. Tak sampai seharga seliter premium paska kenaikan BBM sepenggal waktu lalu. Anda cukup merogoh 5000 rupiah dikocek untuk seporsi bakso, berikut mie, plus pangsit. Insya Allah, cita rasa Roso yang ciamik itu, kontan membuat lidah ketagihan.
Mas Roso nama lengkapnya Suroso. Asli Sluweng, Kebumen, kelahiran 1966. Setamat SD 27 silam, pendidikan Suroso kecil tak lagi berlanjut ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. “Bapak saya yang cuma petani kecil, ndak punya cukup uang untuk biaya sekolah saya waktu itu,” kisah Roso kepada tim peliput KAIL Dompet Dhuafa Bandung, saat berkunjung ke rumah kontrakannya di Jl. Ranca Bentang Timur, Cimahi, satu siang menjelang sore. Tak lagi ada pilihan, merantau adalah satu-satunya jalan yang terlintas dalam pikiran.
Berangkatlah mas Roso ke kediaman kakaknya, di
5 tahun mas Roso bertahan. Tak ada angin tak ada hujan, ia putuskan pulang kampung hanya karena dililit bosan. Padahal waktu itu statusnya masih bujang. Hasil jualan pun relatif cukup, karena belum ada beban istri atau anak yang musti dipikirkan.
Di Kampung, mas Roso malah tak punya kegiatan. Kata dia, “Sluweng itu daerah pertanian yang nanggung, mas. Sawahnya berair kalo pas musim hujan saja. Selebihnya, kering, tak bisa ditanami.”
Mulailah ia berpikir untuk kembali merantau. Kali ini pilihannya jatuh ke
2 tahun di pabrik, sejak 1987, mas Roso ketemu Jodoh. Gadis itu asli betawi, bernama Nurhayati. Cinta lokasi membulatkan mereka mengikat janji suci. Resmilah mas Roso berubah status menjadi suami.
Lazimnya pengantin baru, hari-hari bahagia terasa selalu menghampiri. Setahun dua tahun, manisnya masih terasa. Lalu kemudian, 1992, pabrik payung tempat mereka bergantung, bangkrut karena tak kuat berkompetisi dengan saingan.
Saat itu, istrinya tengah hamil 7 Bulan. Bingung karena biaya hidup di
Selepas kelahiran putri pertamanya, Laely mustika Wati, di Kebumen, 18 Maret 1993, mereka kembali berkumpul di
3 tahun berjalan, mas Roso masih terus cari pegangan. Lamar sana-sini, mengandal selembar ijasah SD-nya. Apalagi buah cintanya yang kedua, Rizka Kusmiadana, sudah lahir ke dunia. Tentu kebutuhan hidup kian hari kian bertambah.
Teringat masa lalu, jualan Bakso di Cimahi, mas Roso mulai menimbang. Apalagi kakaknya di
Mas Roso pun tak menyia-nyiakan peluang. 1996, ke Cimahi mas Roso kembali. Kali ini, ia tak sendirian. Istri dan kedua anaknya ikut serta menemani. Mulailah mas Roso dan keluarga membuka lembaran hidup baru. Modalnya sebuah gerobak, sedikit modal untuk membeli bahan, dan setumpuk optimisme menatap hari depan.
Tak terlalu lebar tempat dia mangkal. Persis di pinggir Gg. Safe’i Jl. Kebon Kopi, saban sore, jam 4-an ba’da Ashar, Mas Roso sudah standby. Kadang jika segalanya sudah siap, mas Roso dan gerobak Baksonya bisa tiba lebih awal.
Sebelum krisis moneter 1998, sehari tak kurang dari 200 porsi bakso bisa ludes terbeli. Paska krisis, jumlah porsi masih bertahan, tapi keuntungan kian menipis. Terlebih, anggota keluarganya kembali bertambah dengan kelahiran Gofir Baihaqi, 25 Desember 1999, dan Kamaliya Marjani 3 tahun setelahnya. Belum lagi isu Bakso tikus yang marak belakang ini di televisi, kian mengahantam usaha mas Roso. “pernah sehari Cuma habis 5 porsi, waktu berita Bakso tikus lagi gencar di televisi,” aku mas Roso.
Demi melihat mas Roso yang berjuang sendirian, Nurhayati, sang istri, tak tinggal diam. ia membantu sebisanya dengan berjualan pakaian anak door to door. Pasarnya ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. Paling jauh satu-dua orang di luar kecamatan. Hasilnya lumayan, sekadar membuat asap dapur agar tetap ngebul.
Sampai satu waktu, ujian Allah kembali datang. Satu per satu anggota keluarga mas Roso terdera demam tinggi bergantian. Modal usaha bakso dia dan jualan pakaian istrinya habis dipakai ongkos pengobatan.
Mas Roso bingung. Jika usahanya berhenti, darimana nafkah istri dan ke-empat anaknya bisa terpenuhi. Alhamdulillah, seorang rekan, sesama penjual Bakso memberi jalan. “Teman saya bilang, coba saja datang ke Dompet Dhuafa Bandung untuk mengajukan bantuan modal,” kata dia menirukan ucapan rekannya.
Sempat Ragu, mas Roso akhirnya ikhtiar. Ia datang ke kantor Dompet Dhuafa Bandung untuk menghidupkan kembali usaha Baksonya, yang sempat vakum beberapa waktu. Prosesnya tak lama. Setelah survey kelayakan usaha tim Dompet Dhuafa Bandung ke rumah tinggalnya di Ranca Bentang, sekian hari kemudian di sepetak ruang Gg. H. Syafe’i, terdengar … Tingtingtingtingting…ting … tek..tuk..tek..tuk… Tingtingtingtingitng…ting … tek..tuk..tek..tuk.. sinyal khas bagi siapapun yang ingin melengkapi sore dengan semangkuk bakso, mas Roso.

0 comments:
Post a Comment