Perawakannya sedang, kulitnya tampak sedikit legam. Kesan garang sama sekali tak nampak memancar dari rona mukanya. Yang ada, sikap santun dan rendah hati saat beliau menerima kami, tim peliput Alhikmah di kediamannya yang megah, Jl. Ariawiratanudatar No. 4-6, Cianjur kota.
Jika Anda aktif di pergerakan Islam, tentu tak asing dengan sosok yang satu ini. Seringkali namanya muncul dalam aksi-aksi frontal menegakkan yang ma’ruf, memberangus kebatilan di berbagai pelosok negeri.
Salah satu yang fenomenal, adalah pembubaran Konferensi Tritunggal Mahakudus (KTM), yang sedianya akan dihadiri para pastor dan pendeta dari dalam dan luar negeri, di Lembah Karmel Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, pertengahan 2007 silam. Kala itu, ia beserta ormas Islam yang dipimpinnya, dan gabungan beberapa ormas Islam lain, berada di garda depan dalam aksi tersebut.
Panggilannya Haji Chep. Nama lengkap, H. Chep Hernawan Dapet, SE, MBA. Jika ingin bersua, cukup datang ke Cianjur, lalu tanya kepada siapapun yang Anda temui kediaman Haji Chep. Insya Allah, tak sulit mencarinya. Selain karena nama Haji Chep memang sudah akrab di telinga masyarakat Cianjur, letak domisilinya pun berada di titik strategis Cianjur kota, Jl. Ariawiratanudatar No. 4-6.
Ciri yang paling mudah dikenali adalah keberadaan spanduk bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Berjilbab” di gerbang masuk rumah tinggalnya. Di tempat itulah Haji Chep Hernawan beserta beberapa tokoh Islam semisal (alm) KH Husein Umar, Dr. anwar Haryono, dan beberapa lainnya, menggagas terbentuknya Gerakan Reformis Islam (GARIS), 24 Juli 1998.
Waktu itu reformasi baru saja bergulir. Ia melihat arah pergerakan umat Islam yang mayoritas cenderung labil. Jika sebelumnya terkungkung oleh rezim orde baru yang senantiasa mengebiri aspirasi, paska reformasi, umat Islam cenderung rentan ditunggangi oleh berbagai kelompok kepentingan, yang ingin memanfaatkan momentum carut marut kondisi negeri.
Ia mensinyalir aroma sekularisme dan komunisme bergerak massif mempengaruhi masyarakat melalui ragam wujudnya, dan potensial menjerumuskan umat kepada era yang tak kalah keji dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Sebagai pengusaha besar di sektor industri daur ulang plastik kresek, property dan distribusi beras, Haji Chep sebenarnya tak perlu repot berpikir njelimet tentang kondisi umat seperti yang terdeskripsikan. Tinggal menekuni usaha dia, lalu mencari aman dengan ikut serta hanyut dalam arus rezim yang ada, lantas ongkang-ongkang kaki menikmati gelimang harta dari hasil usaha dia.
Namun, tidak demikian yang ada dalam benak bapak delapan anak ini. Asanya menerawang ke depan. Ghirah perjuangan yang mendarah daging, warisan ayahnya, Haji Dapet, yang juga tokoh pergerakan Islam ini kian menggelora. Islam adalah harga mati yang harus tegak di segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat negeri ini.
Melalui GARIS (Gerakan Reformis Islam), Haji Chep ingin menghimpun segenap potensi umat untuk melakukan perubahan (reformasi) umat, ke arah reformasi yang Islami. Ia menegaskan, dalam kamus GARIS, tak ada istilah wilayah abu-abu. Yang ada adalah garis tegas, pembeda(Furqan) antara yang hak dan yang batil.
Maka, Bismillah, Haji Chep mulai meniti langkah menuju cita-cita mulia. Prioritas dibuat. Fokusnya ada pada empat hal, antara lain: menolak bangkitnya partai komunis, mengurangi beban derita fakir miskin, Pro aktif dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan menyikapi kebijakan pemerintah yang membuat rakyat sengsara.
Untuk mengurangi beban derita kaum dhuafa yang terdera lilitan hutang rentenir, di wilayah Cianjur dan sekitarnya, GARIS mulai merintis program pinjaman usaha tanpa bunga. Selain itu, 2 unit ambulance, sengaja disediakan GARIS bagi siapapun yang membutuhkan tanpa dipungut biaya. Di wilayah-wilayah rawan akidah, GARIS pro aktif menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satunya, aksi di lembah Karmel seperti yang disebut di awal tulisan.
Yang terbaru, menyikapi keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, GARIS ikut andil dalam berbagai aksi umat Islam menentang kebijakan yang menyengsarakan rakyat itu.
Bergelut langsung dengan kompleksitas permasalahan umat Islam yang akut memang sebuah pilihan bagi seorang Chep Hernawan. Keputusannya melawan arus kerap menuai cibiran dari sebagian orang yang tidak suka dengan dia punya pilihan. Namun, Chep tetap bergeming. Ia optimis, kebangkitan Islam bukanlah impin belaka.

0 comments:
Post a Comment