Thursday, June 26, 2008

Nurani (Timpang) Kemanusiaan

Paranoid menjangkit. Standar ganda kerap terkuak. Demokrasi selalu dijejal di negeri-negeri yang kaya alam, namun miskin kualitas sumber daya manusia. Media massa tak pernah netral, apalagi objektif seperti dalam koar-koar teorinya. Ia menjadi sarana efektif bagi pemegang kuasa modal dan kuasa politik di belahan dunia manapun. Jargon bangkit melawan, atau tunduk tertindas, hanya sepercik kembang api, yang dengan sekali tiup mudah dipadamkan.


Sometimes in April, Rwanda berdarah-darah. Waktu itu 1994. Etnis Hutu yang mayoritas, membantai minoritas Tutsi. Tak peduli kaum perempuan, anak-anak, bahkan rekan Hutu yang tak sepaham pun menjadi korban. Alasannya sederhana, Hutu merasa Tutsi dianakemaskan oleh imperialis Belgia sejak lama. Otoritas kekuasaan yang sudah diberikan kepada suku Hutu pada akhirnya, justru dijadikan alat untuk mewujudkan nafsu hewani mereka, melenyapkan minoritas Tutsi yang selama ini mereka anggap, bahkan sebut, coacroaches, alias kecoa yang tak layak hidup berdampingan.


Sebuah peristiwa, yang direkam dalam bingkai film berjudul Sometimes in April ini, semakin menegaskan, bahwa tumpahan darah, seperti bagian dari sejarah kelam peradaban manusia sejak mula.


Irak tak kalah pedih. Negeri 1001 malam ini luluh lantak, diterjang amunisi super canggih ‘polisi’ dunia, Amerika, sebelum tuduhan pemilikan senjata pemusnah terbukti nyata adanya, hingga kini, saat jari penulis menekan barisan alphabet di keyboard computer jinjing yang sudah nampak usang.

Di Afghanistan, hal serupa terjadi. Lagi, sang polisi dunia menjadi dalang musnahnya sebuah peradaban. Ribuan rudal beterbangan di langit negeri para Mullah itu.


Palestina sudah menjadi rahasia umum. ‘Polisi’ dunia tak mendadak buta tuli, saat tanah suci 3 agama itu amis, bermerah darah. Ketika ribuan wanita, harus menjanda ditinggal syahid suami, dan putra-putra tercintanya. Mereka melawan dengan kerikil jalanan, dibalas tank, rudal dan muntahan peluru tajam zionis Imperialis.


Di Bosnia, Kosovo, Chechnya, Somalia, sampai Thailand dan Filipina, bahkan di negeri sendiri, Ambon, Sampit dan Poso, genosida terjadi.


Itu semua mencuat di alam yang katanya sudah berubah, tak lagi primitif. Menjunjung tinggi hak asasi setiap nyawa makhluk manusia. Nurani kemanusiaan tak lagi mumpuni menjadi penghalang angkara murka tangan-tangan arogan, demi tegaknya hegemoni sang superior. Era modernitas, tak ubahnya belantara purba, yang di dalamnya, si kuat bisa dengan mudah melahap yang lemah.

Paranoid menjangkit. Standar ganda kerap terkuak. Demokrasi selalu dijejal di negeri-negeri yang kaya alam, namun miskin kualitas sumber daya manusia. Media massa tak pernah netral, apalagi objektif seperti dalam koar-koar teorinya. Ia menjadi sarana efektif bagi pemegang kuasa modal dan kuasa politik di belahan dunia manapun. Jargon bangkit melawan, atau tunduk tertindas, hanya sepercik kembang api, yang dengan sekali tiup mudah dipadamkan.

Tengok saja negeri ini. Berapa ongkos fase demokrasi bernama Pilkadal harus dikeluarkan, demi sebuah mimpi negara sejahtera, adil, dan makmur. Yang kasat terlihat, konflik horizontal tak terelakkan di beberapa daerah pemilihan.


Di saat yang bersamaan, rakyat terus dikorbankan untuk bisa bersabar menerima kebijakan penguasa yang kerap menyudutkan. Itupun tak ada jaminan, usai pilkada, keadaan berangsur baik. Biaya hidup elementer di ranah ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, lantas terjangkau. kemiskinan dapat ditekan, bukan dengan statistik yang sering manipulatif, tapi realita.


Tambal Sulam Lembaga Kemanusiaan


Kehadiran lembaga kemanusiaan di wilayah konflik semacam tadi, tentu sangat dinantikan. Entah yang membawa misi emergency berupa penyediaan akses kesehatan, atau bantuan sandang dan pangan yang tentu sangat dibutuhkan.

Dompet Dhuafa, misalnya. sempat hadir, menyampaikan amanah solidaritas masyarakat Indonesia untuk Irak, melalui program Food for Iraq pada awal 2003 lalu. 100 ribu Euro, atau setara 1 Milyar Rupiah, hanya cukup menambal kebutuhan para korban dalam jangka waktu yang pasti tak lama.


Di Afghanistan, DD pun berperan. Sebulan di sana, masih banyak korban-korban kejahatan terhadap kemanusiaan ini yang tak terjangkau bantuan. Selain akses di wilayah konflik yang terbatas, dana yang terkumpul buah donasi kaum peduli di Indonesia pun tak seimbang dengan jumlah korban yang terus berjatuhan.

Di konflik Ambon, Poso, termasuk Sampit, DD tak ketinggalan, membawa misi serupa, kemanusiaan. Dikisahkan dalam catatan yang tertuang dalam buku Jejak-Jejak Membekas, jika di Poso dan Maluku, sifat keagamaannya sangat menonjol, di Kalimantan, justru kesukuan yang menonjol. Serupa dengan tragedi Hutu-Tutsi di Rwanda, seperti tertulis di atas.


Sekilas nampak heroik, tapi tetap harus diakui, peran Lembaga semisal DD di area konflik tak bisa menyentuh akar permasalahan. Tragedy harus dulu terjadi. Barulah ia punya alasan untuk menerjunkan para personilnya.


Dalam buku Jejak-Jejak Membekas, diakui oleh DD, dana untuk program Food For Iraq yang hanya terkumpul seujung kuku misalnya, tak bisa mengatasi penderitaan yang hebat di Irak.


Di perbatasan Pakistan-Afghanistan, para personil DD yang diterjunkan hanya bisa menghela nafas, tatkala di para pengungsi Afghan diusir paksa dari kamp darurat di Pakistan tempat mereka mengamankan diri sementara.

Jangan bicara DD, yang hanya merupakan elemen kecil negeri ini, bicara Negara, atau bahkan sekelas Perserikatan Bangsa-Bangsa, pun tak mampu mencegah kekuatan arogan saat ini yang berlaku seenak perutnya.


Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, entah sampai kapan pula misi kemanusiaan hanya sebatas misi tambal sulam, yang seringkali kewalahan menerima order tambalan. Nurani suci manusia untuk memanusiakan sesama-nya dijadikan proyek politik pencitraan semu, agar nampak pertimbangan kemanusiaan masih ada. Ketamakan, keangkuhan, dan kekuasaan kasat terlihat dominan, hingga menjadikan nurani kemanusiaan kian timpang.


Maka tinggal menunggu waktu, tragedi kemanusiaan serupa Rwanda, Bosnia, Irak, Afghanistan, dan lainnya akan terus terjadi, sampai ada kekuatan yang lebih mampu mengayomi, bukan menindas. Sadar?

0 comments: