Paranoid menjangkit. Standar ganda kerap terkuak. Demokrasi selalu dijejal di negeri-negeri yang kaya alam, namun miskin kualitas sumber daya manusia. Media massa tak pernah netral, apalagi objektif seperti dalam koar-koar teorinya. Ia menjadi sarana efektif bagi pemegang kuasa modal dan kuasa politik di belahan dunia manapun. Jargon bangkit melawan, atau tunduk tertindas, hanya sepercik kembang api, yang dengan sekali tiup mudah dipadamkan.
Sometimes in April,
Sebuah peristiwa, yang direkam dalam bingkai film berjudul Sometimes in April ini, semakin menegaskan, bahwa tumpahan darah, seperti bagian dari sejarah kelam peradaban manusia sejak mula.
Irak tak kalah pedih. Negeri 1001 malam ini luluh lantak, diterjang amunisi super canggih ‘polisi’ dunia, Amerika, sebelum tuduhan pemilikan senjata pemusnah terbukti nyata adanya, hingga kini, saat jari penulis menekan barisan alphabet di keyboard computer jinjing yang sudah nampak usang.
Di Afghanistan, hal serupa terjadi. Lagi, sang polisi dunia menjadi dalang musnahnya sebuah peradaban. Ribuan rudal beterbangan di langit negeri para Mullah itu.
Palestina sudah menjadi rahasia umum. ‘Polisi’ dunia tak mendadak buta tuli, saat tanah suci 3 agama itu amis, bermerah darah. Ketika ribuan wanita, harus menjanda ditinggal syahid suami, dan putra-putra tercintanya. Mereka melawan dengan kerikil jalanan, dibalas tank, rudal dan muntahan peluru tajam zionis Imperialis.
Di Bosnia, Kosovo, Chechnya, Somalia, sampai Thailand dan Filipina, bahkan di negeri sendiri, Ambon, Sampit dan Poso, genosida terjadi.
Itu semua mencuat di alam yang katanya sudah berubah, tak lagi primitif. Menjunjung tinggi hak asasi setiap nyawa makhluk manusia. Nurani kemanusiaan tak lagi mumpuni menjadi penghalang angkara murka tangan-tangan arogan, demi tegaknya hegemoni sang superior. Era modernitas, tak ubahnya belantara purba, yang di dalamnya, si kuat bisa dengan mudah melahap yang lemah.
Paranoid menjangkit. Standar ganda kerap terkuak. Demokrasi selalu dijejal di negeri-negeri yang kaya alam, namun miskin kualitas sumber daya manusia. Media massa tak pernah netral, apalagi objektif seperti dalam koar-koar teorinya. Ia menjadi sarana efektif bagi pemegang kuasa modal dan kuasa politik di belahan dunia manapun. Jargon bangkit melawan, atau tunduk tertindas, hanya sepercik kembang api, yang dengan sekali tiup mudah dipadamkan.
Tengok saja negeri ini. Berapa ongkos fase demokrasi bernama Pilkadal harus dikeluarkan, demi sebuah mimpi negara sejahtera, adil, dan makmur. Yang kasat terlihat, konflik horizontal tak terelakkan di beberapa daerah pemilihan.
Di saat yang bersamaan, rakyat terus dikorbankan untuk bisa bersabar menerima kebijakan penguasa yang kerap menyudutkan. Itupun tak ada jaminan, usai pilkada, keadaan berangsur baik. Biaya hidup elementer di ranah ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, lantas terjangkau. kemiskinan dapat ditekan, bukan dengan statistik yang sering manipulatif, tapi realita.
Tambal Sulam Lembaga Kemanusiaan
Kehadiran lembaga kemanusiaan di wilayah konflik semacam tadi, tentu sangat dinantikan. Entah yang membawa misi emergency berupa penyediaan akses kesehatan, atau bantuan sandang dan pangan yang tentu sangat dibutuhkan.
Dompet Dhuafa, misalnya. sempat hadir, menyampaikan amanah solidaritas masyarakat
Di Afghanistan, DD pun berperan. Sebulan di
Di konflik
Sekilas nampak heroik, tapi tetap harus diakui, peran Lembaga semisal DD di area konflik tak bisa menyentuh akar permasalahan. Tragedy harus dulu terjadi. Barulah ia punya alasan untuk menerjunkan para personilnya.
Dalam buku Jejak-Jejak Membekas, diakui oleh DD, dana untuk program Food For Iraq yang hanya terkumpul seujung kuku misalnya, tak bisa mengatasi penderitaan yang hebat di Irak.
Di perbatasan Pakistan-Afghanistan, para personil DD yang diterjunkan hanya bisa menghela nafas, tatkala di para pengungsi Afghan diusir paksa dari kamp darurat di
Jangan bicara DD, yang hanya merupakan elemen kecil negeri ini, bicara Negara, atau bahkan sekelas Perserikatan Bangsa-Bangsa, pun tak mampu mencegah kekuatan arogan saat ini yang berlaku seenak perutnya.
Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, entah sampai kapan pula misi kemanusiaan hanya sebatas misi tambal sulam, yang seringkali kewalahan menerima order tambalan. Nurani suci manusia untuk memanusiakan sesama-nya dijadikan proyek politik pencitraan semu, agar nampak pertimbangan kemanusiaan masih ada. Ketamakan, keangkuhan, dan kekuasaan kasat terlihat dominan, hingga menjadikan nurani kemanusiaan kian timpang.
Maka tinggal menunggu waktu, tragedi kemanusiaan serupa Rwanda, Bosnia, Irak, Afghanistan, dan lainnya akan terus terjadi, sampai ada kekuatan yang lebih mampu mengayomi, bukan menindas. Sadar?

0 comments:
Post a Comment