Wednesday, December 26, 2007

Dari Cikelet ke Bungbulang, ke Jalan Lain ke Cidaun



Terima kasih kepada pekurban sekalian, yang rela berdarah-darah, demi sebuah titah penguasa Semesta. Kelak,“Daging-daging unta dan darahnya itu sama sekali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya … (Q.S. Al-Hajj: 37).

Deras hujan mengguyur jalanan di Garut Kota. Pekik takbir bersahutan dari corong-corong mesjid, pun konvoi massa yang turut menyemarakkan malam menjelang Idul Adha esoknya, Kamis (20/12).

“Dari sini ke Pemeungpeuk masih sekitar 3 jam perjalanan. Tambah sekitar 1 jam, jika ingin sampai Cikelet,” kata Eneng, pedagang Ayam Goreng yang kebetulan kami (tim monitoring THK dan peliput Kail) singgahi untuk rehat sejenak, sekedar melepas penat di alun-alun kota Garut. Malahan ia menyarankan untuk menunda perjalanan sampai terang tiba. Alasannya, kerap terjadi hal-hal yang kurang berkenan, semisal aksi perampokan, disertai tindak kekerasan.

Mendengar itu, hati kami mendadak ciut. Jantung pun berdegup lebih kencang. “Terutama di wilayah Gunung Gelap, yang jarang sekali dilewati kendaraan di waktu malam,” tambah Eneng, polos.

Mulanya, mendengar nama Pameungpeuk, sebuah kecamatan di Garut Selatan (Gasela), telinga ini seperti tak pernah mengenali. Apalagi saat ditugaskan monitoring ke wilayah Cikelet, tetangga Pameungpeuk, sesama kecamatan di Gasela, rasa penasaran kian membuncah.

“Gimana, nih, mo lanjut saja perjalanan?” tanya Hendra, team driver kami yang kebetulan beristrikan seorang wanita asli Cikelet.

Cukup lama kami menimbang, antara lanjut atau menunda perjalanan. Jika berlanjut, nyawa tentu menjadi taruhan. Jika ditunda sampai pagi tiba, target kami untuk bisa menunaikan titipan pekurban, mengadakan penyembelihan selepas Sholat Idul Adha di Desa Ciroyom, Cikelet, tentu tidak akan terlaksana.

Bismillah, akhirnya perjalanan pun berlanjut. Rasa takut berangsur hanyut, terbawa arus keyakinan akan pertolongan sang Pemberi Kehidupan. Target kami malam itu bisa sampai di ujung keramaian, kota Kecamatan Pameungpeuk, untuk kemudian mencari tempat peristirahatan, sebelum berlanjut ke pelosok Cikelet, tujuan pertama.

***
Ciroyom tampak bersahaja. Sebuah desa terpencil yang terletak di pelosok Selatan Kecamatan Cikelet, tetangga Pameungpeuk, Gasela, terlihat berbeda pagi itu. Masyarakat sudah berkerumun selepas Sholat Idul Adha di Mesjid terdekat. Sebuah hajatan langka, penyembelihan hewan kurban, tengah mereka nanti.

“Maklum, pak, di sini mah jarang sekali yang sanggup berkurban,” seloroh Opik, salah seorang warga Ciroyom, yang turut menanti momen ini. Selain faktor ekonomi yang serba pas-pasan, akses jalan pun cukup sulit dan berbelit. Maka, kata dia, sekalinya ada yang memberi hewan kurban, luar biasa senangnya hati mereka.

Betul kata Jejeng. Akses jalan menuju Ciroyom memang luar biasa menantang. Ada 2 alternatif jalan ke sana. Yang pertama, melalui jalan Kecamatan yang harus ditempuh kurang lebih 9 km, dengan medan bukit terjal bebatuan. Yang kedua, melalui jalan pintas perkebunan sawit yang hanya berjarak sekitar 2-3 kiloan. Namun, jalanannya pun turun naik setapak berbatu, termasuk menyeberang sungai Cimangke (tanpa jembatan) yang berarus cukup deras.

Pertimbangan waktu yang memaksa kami memilih jalan pintas via sungai Cimangke. Itu pun dilakukan dengan sangat hati-hati, karena kebetulan debit air tengah bertambah akibat hujan semalam, yang mengguyur rata wilayah Gasela.

Ada 4 titik penyembelihan, yang tersebar di Kp. Ciroyom, Cilame, Sukadana, dan Kampung adat Dukuh. 40 ekor kambing, amanah pekurban via Dompet Dhuafa, siap disembelih demi sebuah “Titah” suci dari sang pemilik Semesta, di wilayah-wilayah tersebut.

Syukur, medan sulit tak menghalangi kelancaran prosesi penyembelihan, plus distribusi di titik-titik tadi. “Alhamdulillah, aya dulur ti jauh tiasa silaturahmi, teras syi’ar kadieu!( Alhamdulillah, ada saudara dari jauh mau bersilaturahmi ke tempat kami, sekaligus Syi’ar)” ungkap Mama Uluk, Kuncen (ketua adat) Kampung Dukuh. Sebuah Kampung di sebelah Barat Desa Ciroyom, yang masih memegang teguh adat karuhun (nenek moyang), semisal penolakan terhadap televisi, radio dan perangkat teknologi lainnya, yang dianggap bisa merusak harmoni kalbu.

***

Di Bungbulang, masih Garut Selatan, gerimis turun esok paginya, Jum’at (21/12), usai penyembelihan hari pertama Idul Adha, di Ciroyom, Cikelet sehari sebelumnya. Tim monitoring Dompet Dhuafa Bandung wilayah Gasela sampai Cianjur Selatan telah siaga. jatah monitoring masih 2 lokasi tersisa, Bungbulang, dan Cidaun di Cianjur Selatan.

Hari itu, giliran warga Cadas Ngampar, Bungbulang yang ketitipan amanah pekurban via program Tebar Hewan Kurban (THK). Kondisi tanah Desa berpenduduk sekitar 5000 jiwa ini cukup unik. Hampir setiap bulan, dongkrak menjadi kebutuhan. Bukan sebagai penopang body mobil yang tengah ganti/ tambal ban, tapi untuk mendongkrak rumah-rumah panggung mereka yang bergeser, miring, bahkan anjlok akibat pergerakan lempeng bumi yang tak bisa terprediksikan.

“Bahkan, pernah terjadi peristiwa perubahan luas kepemilikan lahan/ tanah dari 1000 m2 menyusut menjadi 500 m2,” kata Ade, warga Cadas Ngampar kepada tim peliput Kail, di sela prosesi penyembelihan hewan Kurban di sana.

Faktor alam seperti terdeskripsikan, berpengaruh besar terhadap nafkah mayoritas penduduknya yang mengandalkan sector pertanian. Longsor yang mengakibatkan gagal panen bukan sekali-dua terjadi. itulah mengapa, kondisi perekonomian kebanyakan dari mereka berada di zona kemiskinan.

17 Jam, Bungbulang-Cianjur Selatan

Tak lama kami di Bungbulang. Masih ada satu target lagi di Cianjur Selatan. Jam 10.30-an kami bertolak dari Cadas Ngampar. Perkiraan perjalanan cukup 3 jam, karena rombongan direncanakan akan menyusuri jalur pintas Lintas Selatan.

Rencana manusia memang tak pernah ada jaminan, Allah jua yang menentukan. Perjalanan tim terhambat di Kecamatan Caringin, masih Gasela. Sebuah jembatan beton, penghubung jalan satu-satunya, putus akibat pembangunan infrastruktur yang setengah hati. Pilihan kedua, turun menyeberang lewat muara. Namun, kondisi laut tengah pasang. “Terlalu beresiko kalo nekad nyeberang,” kata Aa, salah seorang penduduk sekitar yang sempat kami temui kala itu.

Cemas berkecamuk di Dada. Tak ada pilihan lain, kami akhirnya harus berputar arah, melalui jalur Caringin- Cisewu- Talegong, sampai ke Cileunca, Pangalengan. Jam 18.30, baru setengah perjalanan. Dari Cileunca, rimba Gambung menuju Ciwidey, masih harus dilewati.

“kalo ke Jogja, sudah Pulang-Pergi, kali,” celoteh Suhendra, team driver, sekedar menghibur diri, dalam perjalanan yang serperti tak berkesudahan. Langka sekali ada kendaraan yang mengiring, atau bahkan berpapasan. Terlebih dalam perjalanan Cileunca-Gambung yang harus menembus hutan. Tak satupun kendaraan yang melintas, selain suara-suara binatang malam. Wajar, jika Suhendra memacu mobil, seperti kijang diuber macan.

Baru 04.15 dini hari, mobil berhenti. Alhamdulillah, kami tiba di Desa Giri Mukti, Sindang Barang, Cianjur Selatan. Ada dua titik di sana yang dijadikan sentra penyembelihan. Kampung Bojong Koneng, dan Kampung Simpang. Untuk distribusi daging, lain hal. Jangkauannya mencapai Kecamatan Cidaun, di ujung Selatan, Kabupaten Cianjur.

3 malam dalam perjalanan, menjadikan kesan tersendiri dalam diri. Ada hal yang tak tergantikan saat melihat sejumput senyum anak-anak manusia, yang langka merasa lezatnya sekerat daging. Idul Adha 1428 H (2007) ini, seperti halnya 14 tahun berjalan, relawan Tebar Hewan Kurban (THK), Insya Allah, tetap mengemban amanah para pekurban. Berbagi kebahagiaan, bersama saudara kita se-iman di sudut-sudut terpencil, dari Aceh hingga Papua. Termasuk ke Cikelet dan Bungbulang, Garut, sampai ke Cidaun di ujung Selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Terima kasih kepada pekurban sekalian, yang rela berdarah-darah, demi sebuah Titah penguasa Semesta. Kelak,“Daging-daging unta dan darahnya itu sama sekali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya … (Q.S. Al-Hajj: 37)

Tuesday, December 25, 2007

Mama Uluk dan Sekelumit Kisah di Kampung Dukuh



Tampak di dapur, ramai penduduk berkumpul. kompak sekali kelihatannya mereka. Usai penyembelihan, daging dan tulang hewan kurban direcah di sana, untuk kemudian didistribusikan merata ke seluruh warga.


Mama Uluk duduk bersila di ruang tamu kediamannya, Kampung Dukuh, Cikelet, Garut Selatan. Ikat kepala hitam, atau lazim disebut totopong oleh masyarakat sekitar, tampak menghias kepala dia, sedikit menambah kesan wibawa. “ini rupanya, ketua adat Kampung Dukuh, Cikelet,” bisik saya dalam hati.
Nada bicaranya lugas, tanpa ada kesan terpaksa. Kepulan asap dari sebatang rokok kretek merk ternama, seperti menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap tarikan nafasnya. Bahasa Sunda setengah kasar, menjadi ciri khas yang mewarnai ungkapan-ungkapan dia.
Tampak di dapur, ramai penduduk berkumpul. kompak sekali kelihatannya mereka. Usai penyembelihan, daging dan tulang hewan kurban direcah di sana, untuk kemudian didistribusikan merata ke seluruh warga.
Awalnya setengah tak percaya, ketika mendengar cerita Jejeng, warga Desa Ciroyom, tentang Kampung Dukuh, yang juga menjadi salah satu titik penyembelihan dan distribusi program Tebar Hewan Kurban (THK) di Desa Ciroyom, Cikelet. Selama ini, saya mengenal Kampung Dukuh hanya lewat pemberitaan media. Utamanya sepenggal waktu lalu, saat terjadi kebakaran dahsyat yang hampir membuat punah, aset budaya masyarakat Garut ini.
Barulah, saat Honda GL-Pro Jejeng, dan dua unit motor ojeg lainnya, mengantar kami, tim monitoring THK, memasuki gerbang Kampung Dukuh, setengah tak percaya, berubah 100 persen percaya. Harmoni alam tampak nyata menghias deretan rumah tinggal sederhana berbahan bambu, dengan atap rumbai yang berderet sama rapi, di kemiringan tanah yang bertingkat, mirip anak tangga.
Hanya rumah Kuncen (ketua adat) yang berukuran lebih besar, ketimbang warga kebanyakan. “Sabab, didieu mah sok dipungsikeun kangge Musyawarah, atawa tempat narima tamu ti luar kampung, saperti bapak-bapak (Hal ini lebih karena, tempat tinggal kuncen seringkali berfungsi ganda. Bisa sebagai balai musyawarah, atau tempat singgah para tamu dari luar, seperti bapak-bapak ini),” kata Mama Uluk, saat berbincang ringan dengan tim monitoring THK, Dompet Dhuafa. Dari sisi bahan bangunan, semua sama. Memanfaatkan potensi alam sekitar yang kadang terlupakan.
Di Kampung yang berjarak sekitar 7 Km dari Desa Ciroyom itu terdapat 450 jiwa, yang tergabung ke dalam 90 KK. Mata pencaharian penduduk 100 persen dari hasil pertanian, dan peternakan bebek, ayam, dan kambing. Bukan semata-mata potensi alamnya yang memang mengarah ke sana, tapi juga terkait larangan (tabu) dari karuhun (nenek moyang) yang harus dipatuhi oleh warga masyarakatnya. Meski, Mama Uluk secara tegas mengatakan bahwa kehidupan warga Kampung Dukuh berlandaskan pada syari’at Islam, tetap saja ada kejanggalan, yang seperti tak berkesuaian dengan Islam itu sendiri.
Tabu-tabu itu antara lain, larangan lembur. Larangan ini bersifat mengikat hanya di wilayah teritori Kampung Dukuh saja, seluas kurang lebih 1,5 hektar. Misalnya: orang Kampung Dukuh dilarang berdagang. Jika masih tetap ingin berdagang, sebaiknya dilakukan di luar Kampung Dukuh.
Larangan Makam. Yakni larangan berziarah ke makam Syeikh Abdul Djalil di luar hari Sabtu. Khusus laki-laki, harus berpakaian baju takwa warna apapun asal polos, memakai ikat kepala (totopong). Perempuan lain lagi. Ia harus memakai setelan kebaya- sinjang, plus kerudung. Dan larangan-larangan lainnya, semisal penolakan terhadap ragam barang elektronik, termasuk, televisi, dan radio yang diyakini bisa menjaga keseimbangan hidup manusia dengan alam sekitarnya. Termasuk listrik, yang sebetulnya sudah bisa dinikmati semenjak 3 tahun ke belakang.
Banyak hal yang sebetulnya masih ingin ditanyakan. Sayang, perbincangan kami hanya berlangsung tak lebih dari 1,5 jam. Itu pun baru sempat mengorek informasi dangkal, ihwal asal muasal Kampung Dukuh, yang konon didirikan oleh Syeikh Abdul Djalil. Seorang ulama di tatar Sumedang sekitar abad ke 17-18 Masehi, di era kekuasaan Bupati Rangga Gempol. Karena kecewa akan janji Bupati untuk menerapkan syariat Islam di tatar Sumedang yang tak pernah terlaksana, akhirnya dia mengasingkan diri di Cikelet, Garut Selatan.
Bicara Kurban di Kampung Dukuh, hanya ada satu-dua orang saja yang mampu melaksanakan penyembelihan. Itupun tidak rutin setiap tahun. “Alhamdulillah, aya dulur ti jauh tiasa silaturahmi, teras syi’ar kadieu!( Alhamdulillah, ada saudara dari jauh mau bersilaturahmi ke tempat kami, sekaligus Syi’ar)” ungkap Mama Uluk, mengomentari program THK, Dompet Dhuafa. Harapan dia, mudah-mudahan ukhuwah Islamiyah bisa terus terjalin, tak berhenti di waktu yang sempit itu saja. “Insya Allah, Mama. Kapan-kapan kita bersua kembali!”
#Ibnaty Naifa